Selasa, 09 Februari 2010

Para ulama Sufi di medan perang

Mujahid Umar Mukhtar


Banyak sekali kita dengar dari mulut kaum wahabi bahwa ulama sufi tidak pernah mengikuti peperangan jihad fi sabilillah, mereka hanya sibuk dengan ibadah dan melupakan kewajiban jihad, kaum wahabi mencoba untuk menghilangkan sejarah yang pernah diukir oleh pembesar-pembesar sufi yang ikut dalam perjuangan melawan kafir-kafir penjajah negeri islam, mereka memutar balikkan fakta yang ada, selanjutnya mereka membanggakan diri dengan menyebut sebagai pahlawan yang mati-matian menyerang musuh islam dan mengobarkan panji jihad, mereka adalah musuh Amerika yang tidak takut mati, musuh umat kristen yang gagah berani, ditangan mereka berdirinya syari`at, merakalah kelompok yang benar dan berjaya mendapatkan naungan surga. tetapi akah jihad mereka sesuai dengan peraturan al-Qur`an dan sunnah Nabi, kenapa banyak umat islam yang merka bunuh dengan letupan bom, berapa banyak nyawa melayang dengan serangan bom rakitan yang diledakkan oleh mereka, berapa banyak perempuan yang jadi janda hanya karena tidak faham makna jihad sebenarnya, berapa banyak anak-anak menjadi yatim karena bom bunuh diri, Bali yang indah digoncang oleh bom atas nama jihad mereka, Jakarta yang megah diserang bom atas nama jihad, Besawir Fakistan yang meriah hancur luluh lantah dihantam bom bunuh diri atas nama jihad, Syarmun Syeikh Mesir yang cerah tidak ketinggalan di bom oleh mereka, somalia menjadi tempat darah bersimbah hanya atas nama jihad yang mati juga orang islam, yang diperangi juga orang islam, inikah jihad mereka, padahal Rasulullah saw melarang kita untuk membunuh kafir Zimmi, bagaimana pula membunuh umat islam.

Para ulama sufi dari dahulunya memang sudah dikenal tangguh di medan perang, mereka tidak pernah takut mengikuti peperangan, tetapi mereka tidak suka membesar-besarkan keikut sertaan mereka didalam peperangan, karena hal tersebut bisa membuat niat tidak ikhlas, sebab itulah Imam Bukhari meletakkan hadits niat didalam bab berjihad fi sabilillah, karena niat yang ikhlas dalam bejihad sangat penting sekali, orang yang mati dalam peperangan fi sabilillah jika tidak memiliki niat yang ikhlas maka dia mati sia-sia tidak mendapatkan gelar syahid.

Tetapi diantara para Sufi yang mengikuti peperangan melawan kaum kuffar ada terdapat sebahagiannya yang telah ditulis sejarah, diantara ulama-ulama sufi yang mengikuti peperangan melawan musuh adalah :

1 - Imam Abu Hasan Syadzuli, sebagai Imam Sufi yasng teragung, dan telah menggambungkan ilmu hakikat dan syari`at, Qutub pada zamannya, mengikuti peperangan yang terjadi di Kota Mansurah ( Mesir ) pada tahun 642 hijriyah, walaupun umur beliau telah melewati enam puluh tahun, mata beliau telah buta tetapi tidak mematikan semangatnya untuk menyertai jihad fi sabilillah, siang malam beliau berdo`a agar Allah memberikan kemenangan dalam peperangan melawan pasukan Salib yang datang melalui kota Dimyath, akhirnya pada suatu malam beliau mendapat kabar gembira dari Rasulullah saw dalam mimpinya tentang kemenangan umat islam, Sulthan ulama izzuddin Abdussalam meminta pasukan islam mendengarkan kabar gembira dari Syeikh Abu Hasan Syadzuli sehingga kabar gembira tersebut menjadi kenyataan yang indah, pasukan salib dapat dikalahkan bahkan Raja Lois IX ditawan oleh umat islam dan diletakkan dirumah Ibnu Luqman dikota Mansurah ini terjadi pada tahun 648, tempat ini masih ada sampai sekarang, syeikh Abu Hasan meninggal dunia pada tahun 656 hijriyah dan dikuburkan di Humaisara. (1 )


2 - Syeikhul Islam Sulthonul ulama al-Mujtahid Izzuddin Abdussalam merupakan seorang sufi yang hebat dan berani, beliau merupakan ulama yang sangat ditakuti dan di segani, tidak hanya ahli dalam ilmu agama tetapi juga ikut tampil didalam peperangan melawan musuh islam, keberaniannya juga terlihat dihadapan para pemerintahan islam yang tidak patuh terhadap ajaran agama, beliau juga selalu mengikuti pengajian Syeikh Abu Hasan Syadzili dan sangat menghormatinya, diantara peperangan yang beliau ikuti adalah :

a ) Peperangan Salib yang terjadi di kota Mansurah menghadang pasukan musuk yang datang melalui kota Dimyath menuju kota Kairo, didalam peperangan ini beliau beserta Syeikh Abu Hasan Syadzuli ikut terjung langsung ke medan jihad sehingga tertawannya Raja Lois IX, diantara peristiwa yang sangat dikenang ketika itu adalah teriakan Syeikh Izzuddin kepada angin ketika melihat banyaknya kapal-kapal perang Francis yang menghadap ke dermaga Dimyath, dengan suara yang kuat Syeikh Izzuddin berkata : " Wahai angin hancurkan meraka ", ketika itu juga angin menghancurkan kapal-kapal perang Francis, sehingga seorang prajurit muslim mengatakan : Segala puji bagi Allah yang telah melihatkan kepada kami dari golongan umat Nabi Muhammad yang telah Allah mudahkan untuk menundukkan angin.

b) Peperangan melawan Tatar, ketika itu Tatar telah menguasai Baghdad dan ingin menuju Syam, mendengar kabar kedatangan tentra Tatar yang tidak berprikemanusian dan terkenal biadap maka Sulton Saifuddin Quthruz mempersiapkan tentera untuk menyerang pasukan Tatar, tetapi serangan tersebut setelah hari raya, Syeikh Izzuddin menyeru kepada Sulthan agar menyerang mereka ketika bulan ramadhan dan menjanjikannya dengan kemenangan, janji tersebut menjadi kenyataan sehingga pasukan Tatar ( Mongngolia ) kalah didalam peperangan Ainul Jalut pada tahun 658 hijriyah.

Beliau meninggal dunia tahun 660 hijriyah (2 ).

3 - Pangeran Abdul Qadir al-Jaza`iri, seorang yang ahli didalam ilmu hadits dan tasawuf yang memiliki sifat tawadhu` dan rendah hati, tetapi tidak ingin negerinya dijajah oleh Frencis, beliau menyerang tentera musuh dengan gagah berani sehingga melemahkan pasukkan Francis dan keuangan mereka, peperangan ini memakan waktu lebih dari tujuh belas tahun lamanya.(3 ).

4 - Syeikh Ahmad Syarif Sanusi, ketika Syeikh Ahmad telah dilantik menjadi pemimpin Zawiyah Tariqah Sanusiyah pada tahun 1900 Masehi bertepatan tahun 1320 Hijriyah, beliau langsung menyatakan perang melawan musuh Allah penjajah tanah air mereka, gerakan ini membuat pasukkan Francis kewalahan menghadapi serangan pasukan Sanusiah, ketika itu juga pasukan Italia telah menguasai Barqah, tetapi mendapat perlawanan dari Syeikh Ahmad Syarif Sanusi, perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan sehingga beliau meninggal dengan tenang di kota Madinah setelah datang dari Syam.( 4 )

5 - Umar Mukhtar , Seorang tenaga pendidik di Jawiyah Sanusiyah yang telah mengambil Tariqah dari Mursyid Sanusiyah, beliau mengajak murid-muridnya untuk berjihad fisabilillah melawan Italia yang telah menduduki kota Banghazi Libya, beliau telah memerangi Italia sebanyak 263 kali dalam masa duapuluh bulan saja, membuat Pasukkan Italia marah dan mengepung pasukkannya, sehingga banyak tentera islam yang menyertainya jatuh gugur menghadap Allah, akhirnya beliau ditangkap dan dipenjara selama empat hari, kemudian dihukum gantung sampai mati pada tahun 1350 hijriyah.( 5 )

6 - Muhammad Izzuddin Qassam Syadzuli, Beliau merupakan seorang syeikh Jawiyah Syadzuliyah di gunung al-Adhamiyah dibahagian negeri Suria, setelah selesai perang dunia pertama tahun 1918 M negeri Francis menjajah bahagian tepi pantai Suria, ketika itu beliau mengajak parea muridnya untuk mengangkat senjata menyerang penjajahan Francis, beliau juga turut perang melawan Israel yang telah menduduki Palestina, pada tahun 1934 meletus revolusi sehingga beliau gugur Syahid dalam peperangan, kemudian dikuburkan di Haifa, murid-muridnya sampai sekarang masih ada dan memiliki pasukkan yang berani didalam peperangan, pasukkan itu dlah Kata`ib Izzuddin Qassam. ( 6 )
Masih banyak lagi pahlawan-pahlawan sufi yang gugur didalam peperangan baik yang dicatat didala sejarah maupun tidak tertera, semoga Allah melimpahkan surga kepada mereka dan kita semua.

Rujukan :

( 1 ) Bayanul Jazim Anna Tasawuf litazkiyatil Insan Nahjul Lazim karya Sa`id Abul `As`ad : 132, Tabaqat Syadzuliyah al-Kubra karya Abu Ali Hasan bin Muhammad al-Faasi : 20. Husnul Muhadharah Fi Tarikhi Mesr Wal Qahirah Karya Imam Sayuti : 1 /401.

( 2 ) Bayanul Jazim : 133 , Husnul Muhadharah Fi Tarikh Mesr wal Qahirah : 1 / 142, Maktabah al-`Ashriyah Lubnan.

( 3 ) Bayanul Jazim : 134

( 4 ) Bayanul Jazim : 136

( 5 ) Natsrul Jawahir Wa Dururu Fi Ulama Qarni Rabi` `Asyar :1/939, Bayanul Jazim : 144.

( 6 ) Natsrul Jawahir Wa Dururu Fi Ulama Qarni Rabi` `Asyar : 2 / 1352.

Sabtu, 30 Januari 2010

Nilai-nilai tasawuf di dalam film Ketika cinta bertasbih


Film ketika cinta bertasbih tidak hanya menggemparkan Indonesia, tetapi juga mampu menjadi sebuah tontonan yang paling diminati oleh negara-negara lainnya seperti warga negara Malaysia, tidak habis-habisnya saya mendengar ungkapan kagum dari kawan-kawan Malaysia, tetapi yang perlu dikagumi adalah nilai-nilai agama yang termuat didalam film ini, sebab tidak banyak film-film agama menyentuh masyarakat terlebih-lebih kaum muda, film-film Indonesia kebanyakkannya hanya berputar pada masalah cinta, perebutan harta, pengumbar hawa nafsu, tayangan sekwilda ( sekitar wilayah dada ), diharapkan film ini dapat mengajak insan perfilman agar berlomba-lomba membuat film keagamaan.

Seterusnya yang perlu dikagumi adalah nilai-nilai tasawuf yang ada didalam film ini, karena sebenarnya nilai-nilai tasawuf sudah banyak memudar dari pelajar-pelajar al-Azhar Mesir, bahkan ada yang menolak mentah-mentah adanya ilmu tasawuf didalam islam, walaupun sebenarnya Universitas al-Azhar yang tertua ini adalah tempat terbitnya tokoh-tokoh besar sufi dari abad-keabad, tidak dapat ditolak bahwa al-Azhar adalah sebuah lembaga yang berperan besar menyebarkan tasawuf didunia dari masa Solahuddin al-Ayyubi sampai masa Muhammad Sayyid Tantowy, Imam Syarqawy merupakan tokoh tasawuf ternama, Imam Bajuri Syeikh al-Azhar yang berpegang teguh dengan tasawuf, Syeikh Abdul Halim Mahmud syeikh al-Azhar yang memiliki corak kehidupan Sufi, Doktor Umar Hasyim seorang pakar hadits yang lahir dan hidup dibawah tenda tasawuf, Doktor Ahmad Toyyib rektor Universitas al-Azhar sekarang terlahir menjadi seorang muslim yang sangat cinta dengan tasawuf, sebab itulah di universitas al-Azhar , Fakultas Usuluddin dan Dakwah memiliki mata pelajaran Tasawuf.

Kembali kepada cerita semula, pilihan Habiburrahman kepada sebuah kitab yang dibaca oleh mas Azam adalah merupakan satu isyarat yang penting bahwa al-Azhar adalah Universitas Sufi yang mengajarkan tasawuf yang hakiki, al-Hikam ini adalah sebuah karya besar seorang ulama besar al-Azhar yang pernah menjadi imam di masjid al-Azhar asy-Syarif pada abad ketujuh Hijriyah, dari mulai saat itulah kitab al-Hikam dibaca oleh ulama - ulama al-Azhar di masjid al-Azhar sehingga sampai abad kelima belas sekarang ini telah dibaca dan dibahas oleh Mufti besar Mesir Syeikh Doktor Ali Jum`ah, pengajian tersebut terletak di naungan mihrab Fatimiyah dalam masjid al-Azhar.

Memandang betapa besarnya manfaat al-Hikam dikalangan umat islam yang sudah tergoda dengan hidup kedunian yang singkat dan fana ini sehingga banyak pula dari kalangan ulama yang membuat kitab syarahan al-Hikam Ibnu `Atho`ilah as-Sakandari, salah satu Syarah yang terbesar adalah hasil karang seorang ulama terkemuka abad ke lima belas ini Profesor Doktor Muhammad Sa`id Ramadham Buthi.

Diantara untaian Hikmah yang dibacakan oleh mas Azam adalah hakikat tawadhu` disisi Allah SWT, dalam arti kata seorang yang tawadhu` adalah jika telah merasa tidak memiliki perasaan muliya dan berharga dihadapan Allah dan semua orang, karena jika seseorang menganggap telah berhasil memiliki sifat tawadhu` maka orang tersebut telah merasakan mulya dan berharga disisi Allah, karena Tawadhu` itu satu kedudukan yang tinggi, dengan makna lain orang tersebut telah merasakan bahwa dirinya tinggi dihadapan Allah, inilah membuat siapa saja yang telah menetapkan dirinya telah bersifat tawadhu` ( rendah hati ) maka dia benar-benar seorang hamba Allah yang sombong, ini adalah permainan Syeitan yang sangat halus bagi hamba Allah yang mau menuju ke pintu Ridhanya, jika seseorang telah merasa dirinya yang paling alim, paling bersih, paling takwa, paling dekat dengan Allah, paling banyak beribadah maka hal ini sudah nyata-nyata sikap takabbur yang membahayakan, sebab itulah para sufi yang benar-benar mengikuti konsef tasawuf tidak merasa suci dihadapan orang yang membuat kesalahan dan maksiat, karena mungkin saja orang yang membuat maksiat tersebut lebih mulya dan tinggi darinya, adanya perasan lebih dibandingkan manusia yang lain adalah merupakan penyakit hati yang merusak ibadah dan amal, penyakit ini perlu diobat bukan dengan cara dioprasi dan memakan tablet obatyang dibeli dari toko obat, tetapi dengan belajar tasawuf dari seorang yang benar-benar telah menerapkan ilmu tasawuf kepada dirinya.

Bahagian yang seterusnya adalah mas Azam yang mencium tangan seorang kiyai pondok pesantren merupakan pengamalan tawadhu` yang telah hilang dari kebanyakkan pelajar-pelajar al-Azhar, bagaimana saya seorang graduan al-Azhar mau mencium tangan seorang ustaz atau kiyai yang tidak pernah belajar seperti saya, tidak pernah sampai ke Universitas yang tertua terbesar didunia, hal ini membuat enggan untuk mencium tangan para ulama yang lebih tua dari dirinya, atau sebahagian menganggap bahwa cium tangan ulama merupakan hal bid`ah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah, pada gambaran yang pertama ini menunjukkan betapa sombongnya hati orang tersebut, sehingga merasa lebih besar dan alim dibandingkan dengan ulama atau kiyai yang tidak pernah belajar di universitas al-Azhar, karena Iblis juga seorang yang memiliki ilmu banyak, graduan surga yang memiliki banyak murid terdiri dari malaikat-malaikat, tetapi disebabkan kesombongan akhirnya mendapat laknat sampai hari akhirat, gambaran kedua adalah bukti kebodohannya yang tidak pernah membaca dan mengkhatam kitab-kitab hadits, padahal masalah mencium tangan ulama merupakan satu hal yang dituntut dan disunnahkan, dalil-dalilnya tersebar didalam kitab-kitab hadits, jadi mas Azam yang mencium tangan sang kiyai merupakan satu bukti ketawadhu`an yang perlu di tebarkan dan dikembangkan.

Senin, 11 Januari 2010

Gaza yang terkurung tembok


Gaza sebuah daerah yang tersisih dari dunia kehidupan, kemiskinan menjadi teman hidup sehari-hari, kehidupan yang penuh dengan kesengsaraan, di kelilingi tembok perkasa yang memisah mereka dengan dunia luar yang nyata, mereka terpisah dengan saudara-saudara mereka yang berada di Dhifa Gharbiyah, mereka terpisah dengan saudara-saudara mereka seagama, tembok tinggi dan tebal memaksa mereka untuk mengorek tanah yang dalam membuat terowongan agar mendapat keperluan sehari-hari dari negeri tetangga Mesir yang enggan membuka pintu masuk ke negeri mereka, keadaan ini memaksa mereka untuk membeli kebutuhan hidup dari bawah tanah yang sangat membahayakan, tidak jarang nyawa menjadi taruhan untuk mendapatkan keperluan mereka, kalaulah pemerintahan Mesir mau membuka pintu masuk setiap harinya agar memudahkan rakyat Palestina di Gaza memdapatkan keperluan mereka sehari-hari, tetapi kenyataan lebih pahit daripada perkataan, keadaan ini berterusan tidak mendapat perhatian yang berarti dari seluruh umat islam terlebih-lebih negara-negara islam dan negara tetangga.

Kepahitan hidup rakyat Gaza tidak berhenti begitu saja, bahkan ditambah dengan keputusan Mesir yang membuat tembok pemisah didalam tanah sedalam 30 meter, keputusan ini diterima oleh warga Gaza dengan berat hati dan laksana memakan empedu yang dibubuhi racun mematikan, ditambah lagi fatwa para ulama yang mendukung keputusan tembok Fulaji karena atas dasar kepentingan pemerintah, tekanan Amerika dan Israel terhadap Mesir membuat Mesir berani membuat keputusan yang merugikan umat islam.

Apapun alasan Mesir untuk membangun tembok Fulaji tidak dapat diterima karena menguntungkan penjajah Israel yang biadab, pada masa ini kita sangat mengharapkan seorang ulama yang memberikan pengaruh besar dihadapan umat dan pembesar pemerintah islam, seperti Sulton ulama Izzuddin Ibnu Abdus Salam yang memang memperjuangkan kehidupan umat islam, kita sangat bersukur masih adanya figur seorang ulama yang berani seperti Doktor Yusuf Qardhawi yang memfatwakan haramnya tembok Fulaji, tetapi fatwa tersebut tidak memberikan kesan terhadap umat dan pemimpin umat islam, kita tidak tahu penyebab sebenarnya kenapa umat tidak mendukung fatwa tersebut, apakah Syeikh Yusuf Qardhawi belum sampai tahap seperti Syeikh Izzuddin yang membuat takut raja-raja umat Islam, atau umat islam sudah terlalu jauh dari para ulamanya sehingga mereka tidak mau mengikuti fatwa-fatwa yang memperhatikan kehidupan umat islam, perpecahan antara umat islam dan pemimpin-pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri membuat islam menjadi mundur dan diam di tempat.

Minggu, 03 Januari 2010

Ziarah ke rumah Syeikh Mahmud Said Mamduh


Bersama al-Muhaddits Syeikh Mahmud Said Mamduh al-Qahiri asy-Syafi`i asy-Syadzuli


Nama beliau sudah tidak asing lagi ditelinga para penuntut ilmu terutama di Makkah, Madinah, Yaman, Bahrain, dan Mesir, sifat tawadhuk dan ramah terpancar dari wajahnya, walaupun berbagai macam tuduhan yang menimpanya tetapi beliau masih tetap bersabar, bukankah Imam Syafi`i, Imam an-Nasa`i, Imam Bukhari, Imam Ibnu Ishaq, Imam ath-Thabari pernah kena tuduh dengan tuduhan yang bukan-bukan, tetapi mereka masih juga tetap bersabar, begitulah yang saya lihat dari guru saya yang tercinta ini, beliau tetap tenang dalam menghadapi segalanya, saya tidak ta`asub tetapi hanya ingin melihat mana yang benar mana yang salah, yang benar mesti di akui walaupun terasa pahit, yang salah mesti di perbaiki mestipun terasa berat, saya kira tidak ada orang yang paling akrab dengan beliau dari pelajar Asia tenggara kecuali al-Faqir ( Muhammad Husni ), beliau mengatakan saya bermazhab Syafi`i, bertarikatkan Syadzuli, ucapan ini bukan Taqiyah tetapi memang benar datang dari hati sanubari, mengenai pendapat-pendapat yang agak berbeda dengan sebagaian pendapat ulama, itu adalah pilihan beliau, hal tersebut tidak terlalu jauh dibandingkan pendapat al-Hafiz Ahmad Siddiq al-Ghumari, mengapa mereka memuji-muji Syeikh Ahmad Siddiq Ghumari sementara menjatuhkan Syeikh Said Mamduh yang tidak memiliki terlalu jauh dari pendapat ulama yang telah beliau pilih, Syeikh Mahmud telah mengucapkan dengan jelas bahwa beliau bukan seorang yang Syi`ah, ini ucapan seorang yang Tsiqah timbah lagi jika seorang yang dituduh Syi`ah tetapi beliau Tsiqah maka riwayatnya masih tetap dapat di terima, untuk lebih mengkuatkan lagi tidak setiap Syeikh al-Azhar menyerang Syeikh Mahmud said Mamduh, terbukti Syeikh saya Muhammad Mahmud Hasyim merupakan Dekan Kuliah Usuluddin al-Azhar cabang Zaqaziq memuji Syeikh Mahmud Sa`id Mamduh dan menyuruh saya agar tetap belajar padanya, perlu diketahui Syeikh Muhammad Mahmud Hasyim adalah guru dekat saya semenjak tahun 2004, dan dari beliaulah saya boleh dekat dengan Syeikh Mahmud Said Mamduh.

Di Makkah para ulama dan murid-murid Syeikh Yasin sangat memuji Syeikh Mahmud Said Mamduh, tidak ada di Mesir ini orang yang telah berhasil membaca Kutubus Sittah kecuali Syeikh Mahmud Said Mamduh, apapun tanggapan seseorang inilah sikap saya terhadap guru saya Syeikh Mahmud Said Mamduh, saya mempunyai seorang guru bermazhab Wahabi tetapi beliau tidak mengajak orang kepada pendapatnya sebab itulah saya ambil juga riwayat hadits dari beliau tanpa sifat kefanatikan.

al-Hamdulillah pada 10 muharram 1431 hijriyah tahun ini saya masih sempat berkunjung ke rumah Syeikh Mahmud Said Mamduh di Nadi Sikka al-Hadid, untuk mendengarkan beberapa Musalsal.

Menyambut `Asyura bersama ulama

Acara pembacaan Musalsal oleh Ustaz Muhammad Husni Ginting di Rumah pelajar Kedah


Jauh beberapa tahun dahulu ketika saya masih berada dipangkuan pesantren Musthafawiyah Purba Baru hari `Asyura adalah hari yang sangat indah yang pernah kami lewati, malamnya kami mengadakan pertemuan di rumah Syeikh Abuya Ibrahim Zannun al-Mandaili untuk membaca ayat Kursi sebanyak 360 kali dan masih banyak lagi amalan-amalan yang lainnya, pada pagi harinya kami berangkat menziarahi makam pendiri pesantren musthafawiyah Syeikh Musthafa Husein Nasution, setelah itu berziara ke rumah Syeikh Ibrahim Zannun di Dalang lidang, lalu menziarahi makam Syeikh Ya`qub bin Abdul Qadir bin Sobir al-Mandili di Panyabungan, kemudian pergi ke Padang sidempuan menziarhi Syeikh Ali Hasan Ahmad ad-Dari al-Mushafawi, beliau merupakan murid dari Syeikh Sayyid Abbas bin Abdul Aziz al Maliki, Sayyid Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki, Syikh Ali Husein al-Maliki, Syeikh Hasan Masyath, kemudian ke Syeikh Utsman bin Muhammad Daud an-Naqayabandi seorang pakar ilmu falak di Nabundong.

Setiap tahunnya kami mengadakan ziarah makam dan ulama pada hari `Asyura, alhamdulillah amalan tersebut masih dapat dilaksanakan ketika di Mesir dengan berziarah kepada ulama-ulama besar serta mendengarkan musalsal Yaumul `Asyura, diantara ulama-ulama yang pernah saya didatangi pada Yaumul `Asyura adalah Habib Zein bin Sumith, Syeikh Muhammad Sa`Ad Badran al-Qauqji, Syeikh Mahmud Said Mamduh asy-Syafi`i asy-Syadzuli, Syeikh Ahmad Hajin asy-Syafi`i dan lain-lain.

Di Makkah `Asyura diperingati dengan cara mengunjungi ulama-ulama untuk mendengarkan riwayat musalsal `Asyura, sebagaimana yang telah dibuat oleh Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki.

Pada Tahun ini alhamdulillah saya dapat meriwayatkan hadits musalsal Yaum `Asyura bertempat di rumah Kedah Hay Sabi` Kairo, kemudian berziarah kerumah Syeikh Mahmud Said Mamduh al-Qahiri asy-Syafi`i, sebab ketika saya di Makkah guru-guru saya berpesan agar terus mengaji dan belajar dari beliau, beliau adalah seorang Khalifah Syeikh Yasin Fadani di Mesir, sementara di Makkah khalifah Syeikh Yasun Fadani di pegang leh Syeikh Abu Alawi Hamid al- Kaaf.

Sabtu, 26 Desember 2009

`Asyura yang mulia


`Asyura` merupakan hari yang kesepuluh dari bulan muharram, memiliki banyak kelebihan dan keistimewaan, sebab itu umat islam sangat bergembira menyambut kedatangannya, tetapi bagaimana cara kita menyambut `Asyura` yang mulia, apakah dengan memukul-mukul badan dan kepala? apakah dengan menangis? sebagaimana yang dilakukan kaum syi`ah?, apa yang dilakukan oleh kaum syi`ah tidak ada sangkut pautnya dengan kebesaran `Asyura`, sebab Raulullah saw telah mengajar kita bagaimana caranya merayakan `Asyura tanpa membuat sesuatu yang bid`ah dan tidak dibenarkan islam, diantara salah satu sambutan `Asyura adalah berpuasa pada hari tersebut.

Fadhilah puasa `Asyura

Rasulullah telah menyebutkan kelebihan puasa pada hari `Asyura, diantara hadithnya :

1 - Dari Abi Qatadah, Rasul bersabda:

صيام يوم عاشوراء إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

ِArtinya : Berpuasa pada hari `Asyura aku berharap Allah mengampunkan dosa ( orang yang berpuasa ) se tahun yang lalu. ( H.R Muslim ).

2 - Dari Abdullah bin Umar, Rasul bersabda :

يوم عاشوراء إن شاء صام

Artinya : Pada hari `Asyura bagi yang ingin berpuasa maka berpuasalah. ( H.R Bukhari no 2000).

Apakah dosa yang diampunkan itu dosa besar dan kecil atau dosa kecil saja?

Dalam permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat diantara ulama, menurut al-Hafiz Ahmad Shiddiq al-Ghumari puasa hari `Asyura dapat mengampuni dosa besar dan kecil, sebagaimana didalam buah karya beliau " Tanwir al-Abshor wa al-Basho-ir " sementara para jamhur ulama berpendapat puasa pada hari `Asyura dapat mengampuni dosa kecil saja.

Puasa hari `Arafah dapat mengampuni dosa-dosa yang telah dilaksanakan setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang, jika puasa `Asyura dapat mengampuni dosa setahun yang lalu, maka apakah yang akan diampuni jika dosa setahun yang lalu telah diampuni dengan sebab puasa `Arafah?

Jika dosa setahun yang lalu telah diampuni dengan sebab puasa hari `Arafah maka pengampunan sebab puasa `Asyura itu berubah menjadi penaikan pangkat dan derajat seseorang yang berpusa pada hari `Asyura.

Hukum puasa pada hari `Asyura

Puasa `Asyura hukumnya sunnah hal ini telah menjadi ijmak ulama, tetapi Qadhi `Iyadh menukilkan bahwa ada sebahagian salaf yang berpendapat bahwa puasa `Asyura itu waji dan tidak dimansukhkan, kemudian beliau menjelaskan bahwa pendapat tersebut telah hilang dan tidak digunakan lagi, sehingga hukum puasa `Asyura menjadi ijamak ulama tentang kesunnahannya.

Hukum puasa `Asyura sebelum datangnya kewajiban puasa Ramadhan.

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban puasa `Asyura sebelum datangnya perintah puasa Ramadhan.

Pendapat pertama : Puasa pada hari `Asyura sebelum datangnya perintah puasa Ramadhan hukumnya wajib, pendapat ini di sokong oleh Imam Abu Hanifah dan sebahagian kecil ulama mazhab Syafi`i, adapun dalil yang mereka gunakan adalah hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Salam bin Akwa` beliau berkata :

أمر النبي صلى الله عليه وسلم رجلا من أسلم أن أذن في الناس أن من كان أكل فليصم بقية يومه، ومن لم يكن أكل فليصم فإن اليوم يوم عاشوراء

Artinya : Nabi saw memerintahkan kepada seorang lelaki dari qabilah Aslam agar memberi tahu kepada orang-orang bahwa siapa yang telah makan maka hendaklah berpuasa selebihnya, dan orang yang belum makan hendaklah berpuasa, karena hari ini adalah hari `Asyura.

Pendapat kedua : Puasa pada hari `Asyura sebelum datangnya perintah puasa Ramadhan hukumnya sunnah, pendapat ini didukung oleh kebanyakkan ulama dan Mazhab Syafi`i, diantara dalil yang mereka gunakan adalah hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Mu`awiyah bin Abi Sufyan , Rasul bersabda :

إن هذا اليوم يوم عاشوراء ولم يكتب عليكم صيامه وأنا صائم فمن شاء صام ومن شاء فليفطر

Artinya : Sesungguhnya hari ini adalah hari `Asyura, tidak diwajibkan kepada kamu berpuasa `Asyura, tetapi saya berpuasa, barangsiapa yang ingin puasa maka silahkan berpuasa, jika tidak maka berbukalah.

`Asyura itu pada hari yang kesepuluh Muharram atau yang kesembilan?

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan `Asyura itu hari kesepuluh dari bulan Muharram atau hari yang kesembilannya.

Pendapat pertama : `Asyura adalah hari yang kesepuluh dari bulan Muharram, ini pendapat dari kalangan kebanyakkan ulama, diantaranya adalah Sa`id bin Musayyab, Hasan al-Basri, Malik, Syafi`i, Ahmad, Ishaq, Nawawi, Ibnu Munir dan banyak lagi.

Pendapat kedua : `Asyura adalah hari yang kesembilan dari bulan Muharram, diantara yang berpendapat seperti ini adalah




Minggu, 20 Desember 2009

Menyambut tahun Baru islam

Ustaz Husni sebelum memberi sedikit ucapan dalam menyambut tahun baru islam di depan masyarakat Mesir di sebuah kota kecil Kumannur.

Dalam menyambut tahun baru hijriyah 1431 H diisi dengan ziarah ke makam Syeikh Sya`rawi di Daqadus Mitghamr.( foto ust Husni Ginting dan Ust Basyir Kelantan )


Ust Husni Ginting beserta Ust Muhsin Kedah di depan malam Syeikh Sya`rawi Mufassir abad ke lima belas Hijriyah

Berfoto bersama didepan makam Syeikh Sya`rawi seoramg ulama besar yang masih tetap hidup namanya didalam hati orang-orang arab terutama orang Mesir.

Hari Jum`at adalah hari jatuhnya tahun baru islam tahun 1431 H, tahun baru umat islam yang perlu dihormati dan dibesarkan, sebahagian masyarakat umat islam tidak mengetahui apa yang disebut tahun baru islam, sebahagian juga ada yang tidak mengetahui bulan-bulan islami, yang mereka tahu cuma bulan ramadhan, sebab itulah perlu adanya perayaan hijriyah yang mengajarkan tentang semangat dakwah dan kebenaran, perayaan hijriyah juga gunanya untuk mengingati kembali sejarah yang telah lama terjadi tetapi perlu di ingat kembali bagaimana hijrahnya Nabi Muhammad saw yang membawa risalah Allah, perjalanan yang sangat melelahkan, pengorbanan yang penuh rintangan, bertarung nyawa dan harta, perpindahan yang akan membuat kejayaan yang gemilang dengan izin Allah.

Imam Ali telah mengambil posisi tempat tidur Rasul, selimut Rasul telah menutup tubuh sang pemuda pemberani yang siap mengorbankan jiwa raganya, rencana ini gunanya adalah agar orang kafir masih tetap mengawasi rumah Rasul sehingga Rasul dengan mudah untuk berjalan menuju hakuan yang telah di rencanakan.

Sesosok tubuh yang berjalan ketakutan kemuka dan kebelakang Rasul, muka pucat hati berdebar, tubuh gemetar, namun beliau bukan takut pada dirinya yang mungkin saja pedan menghunus dan menancap ke perut yang kosong dari makanan, tetapi takut dengan jiwa Rasul yang terancam dari serangan kaum kafir, Abu Bakar seorang sahabat yang sejati mampu mencurahkan dan mengorbankan dirinya demi Rasulullah saw, merasa resah terhadap Rasulullah, ini adalah gambaran sahabat sejati yang terlukis disejarah hijrahnya Nabi.

Seorang wanita yang bukan hanya mampu menangis dan meneteskan air mata, tapi mampu juga berjuang untuk meninggikan kalimat Allah di bumi yang fana, keberanian yang menurun dari sang ayah yang telah berkorban jiwa dan harta, tidak takut dengan ancaman orang-orang kafir yang tidak kenal dosa, beliau datang membawa makanan untuk diberikan kepada Rasul dan ayahnya, menambat kambing di tepi gunung agar tidak dicuriga, sungguh berani Sayyidah Asma` untuk mengantar makana, sehingga sejarah mengenang segala jasa-jasanya.

Hijrahnya Nabi merupakan satu momentum yang sangat istimewa, perlu di ingat kembali sehingga kita memiliki semangat untuk berjuang meninggikan islam di permukaan bumi ini, janganlah kiranya cerita hijrah terpendam di buku-buku sejarah saja, tetapi perlu dibaca dan di jadikan barometer untuk memupuk semangat kita agar berjuang untuk agama Allah.