Selasa, 25 Januari 2011

Penyatuan Mazhab antara penyokong dan penolak

Penyatuan mazhab terhadap umat telah pernah dikemukakan oleh sebahagian para khalifah seperti khlifah Mahdi pada masa empayer Abbasiyyah, kemudian masalah ini ditimbulkan kembali kepermukaan bumi dengan alasan karena terlalu banyaknya perselisihan dan pertengkaran di kalangan pelajar dan para ulama, hal ini membuat sebahagian para pemikir dan ulama mencoba untuk menyatukan pendapat dan menyatukan mazhab dengan metode yang baru.



Perbedaan dalam masalah furu` ( cabang - red ) sebenarnya tidak membawa perpecahan dan pertengkaran diantara ulama pada zaman dahulu, semua para mujtahid dan ulama sangat menghormati pendapat ulama yang lainnya, tidakada rasa fanatik dan rasa benar sendiri dari kalangan mereka, sebab itulah terkenal dengan umgkapan Imam Syafi`i yang menyebutkan : " Pendapatku benar tapi mungkin saja salah, pendapat mereka salah tetapi mungkin saja benar ", hal mengaju kepada perbedaan ijtihad dan perbedaan dalam memandang dan memahami nas-nas al-Qur`an dan al-Hadis, sebagaimana yang telah termaktub didalam Qa`idah Fiqhiyyah :

الإجتهاد لا ينقض بالإحتهاد  
Artinya : Ijtihad seorang yang mujtahid tidak akan dapat membatalkan ijtihad mujtahid lainnya.

Selama ijtihad masih didalam hal-hal yang bukan memililiki nas yang nyata, maka hal ini diterima oleh para ulama, tetapi jika ijtihad tersebut menyentuh masalah-masalah yang memiliki nash yang nyata  ( yang tidak dapat di ragukan lagi tujuan dan muatan dalilnya -red ), maka masalah ini tidak boleh lagi di ijtihadkan, sebagaimana yang telah di sepakati oleh ulama didalam Qa`idah Fiqhiyyah :

لا إجتهاد مع وجود النص

Artinya : " Tidak boleh berijtihada dalam masalah memiliki Nash ( yang tidak dapat di ragukan lagi tujuan dan muatan dalilnya -red )

Permasalahan-permasalahan yang memiliki dalil-dalil Nash dari al-Qur`an dan sunnah seperti kewajiban shalat lima kalisehari semalam, zakat, puasa Ramadhan, haji, keharaman khamar, keharaman memakan babi, keharam judi dan lain-lainnya, dalam masalah seperti ini para ulama mujtahid sefakat untuk menentukan hukumnya, sebab tidak memiliki pintu untuk berijtihad.

Tetapi didalam permasalahan-permasalahan yang tidak memiliki Nash-Nash yang terang dan jelas maksudnya, maka para ulama mencoba untuk berijtihad menurut qaedah  dan kemampuan mereka dalam memahami ayat-ayat al-Qur`an dan al-Hadis, sebab itulah terjadi perbedaan di kalangan mujtahid karena perbedaan mereka dalam menyikapi dasar-dasar hukum, alat-alat ijtihad, sumber-sumber hukum dan cara mengambil hukum dari al-Quran dan al-Hadis.

Semua ulama mujtahid sepakat menjadikan al-Quran dan al-Hadis sebagai suber pertama dan kedua, tetapi mereka didalam pemahaman ayat al-Qur`an lewat dari segi bahasa, nasikh-mansukhnya, umum-khususnya, mutlak-muqayyadnya, berbeda juga dalam penentuan derajat hadis, pengamalan hadis apakah diamalkan hadis dho`if atau tidak, apakah hadis mursal bisa dijadikan dalil atau tidak, apakah  hadis itu mamsukh atau tidak, apakah hadis itu umum atau khusus, dan seterusnya.

Tetapi yang kita takuti sebenarnya adalah perbedaan aqidah dikalangan umat islam, adanya aqidah Ahlussunnah wal Jama`ah, Syi`ah, Khawarij, Muktajilah, Qadariyyah, Jabariyyah, Hanabilah Mujassimah, Wahabi dan lain-lainnya menbuat rancah pendidikan dan kehidupan bergejolak dan bermusuhan, lihatlah ketika golongan Muktazilah membunuh ulama-ulama Ahlu Sunnah yang tidak memiliki pendapat yang sama dengan mereka dalam maslah al-Qur`an apakah dianya makhluk atau Qadim, lihatlah keganasan dan aksi pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Hanabilah Mujassimah terhadap ulama-ulama Ahlussunnah sebagaimana yang di muatkan oleh al-Hafiz Ibnu Atsir didalam kitabnya " al-Kamil Fi at-Tarikh ", lihatlah pembunuhan yang sadis dan keji yang telah di buat oleh golongan Wahabi ketika merebut Makkah, Madinah dan Tho`if sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Allamah Zaini Dahlan al-Makki dan yang lainnya.

Kembali kepada topik pembahasan, apakah mungkin seluruh umat pada masa sekarang ini disatukan semua didalam satu mazhab, didalam hal ini perlu kita melihat kalangan yang menyokong persatuan dan menolak penyatuan pendapat

1 - Golongan yang mendukung

Diantara orang yang mendukung pendapat ini adalah Muhammad Eid Abbasi dengan memuat pembahasan ini didalam kitabnya " al-Mazhabiyyatu al-Muta`ashibah ", beliau menerangkan tentang pentingnya penyatuan pandangan dan hukum dalam satu mazhab saja, ini gunanya menjauhkan pergesekkan dan perkelahian diantara sesama umat islam.

Diantara golongan yang mendukung penyatuan pendapat adalah glongan wahabi, mesti walaupun mereka tidak menyebutkan secara jelas dan nyata, tetapi didalam praktek dakwah dan ajaran mereka menginginkan agar seluruh orang mengikuti mazhabnya Ibnu Taimiyyah, dan membuang pendapat-pendapt yang lainnya, dengan begitu seluruh ummat didalam satu mazhab saja.

2 - Golongan yang menentang

Golongan ini diawali oleh Imam Malik Alim Madinah yang ketika itu selurh ulama mengenderai untanya untuk mendengarkan ilmu agama dan hadis dari beliau, beliaulah orang yang pertama sekali menolak penyatuan pendapat dikalangan ummat ketika diminta oleh khalifah al-Mahdi agar kitabnya menjadi acuan ummat dalam mengamalkan islam.

Berkata Imam Malik : " Daerah barat negeri islam cukuplah untukku ( dalam mengembangkan mazhabku - red ), sementara di negeri Syam terdapat Imam al-Auza`i ( seorang ulama yang mujtahid - red ), sedangan negeri Iraq juga terdapat ahli ijtihad.

Dikalangan ulama kotemporer yang menolak penyatuan pendapat adalah Syeikh Musthafaaz-Zarqa, Syeikh Abdul Azim al-Mut`ini, Doktor Ramadhan Sa`id Buthi, Doktor Mahmud Ismail Muhammad Misy`al, diantara alasan dan dalil mereka adalah :

1 - Perbedaan pendapat sudah terjadi pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat.
2 - Perbedaan pendapat dilahirkan dari memahami teks-teks ayat al-Qur`an dan hadis.
3 - Nash-Nash al-Qur`an memiliki banyak makna sehingga berbeda memahami maknanya.
4 - Perbedaan pendapat merupakan keluasan islam dan rahmat Allah .
5 - Perbedaan ulama dalam sumber-sumber hukum.
6 - Perbedaan ulama dalam sebab dan illat hukum.
7 - Dan lain-lain.

Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua yang menentang penyatuan mazhab.

Rujukkan :
1 - Atsar al-Fiqhi Fi al-Qawa`idi al-Mukhtalafi Fiha : Doktor Mahamud Ismail Misy`al, Dar Salam, Cairo.1430-2009.

2 - al-Insof Fi Bayani Asbabi al-Ikhtilaf : Imam Waliyullah ad-Dihlawi al-Hindi, Maktabah as-Sunnah , al-Qahirah1417-1996.

3 - Atsar al-Hadis as-Syarif Fi Ikhtilafi al-A`immati al-Fuqaha`: Syeikh Muhammad Awwamah, Dar Salam,1407-1987.

4 - Khabar al-Wahid Fi as-Sunnah Wa Atsaruhu Fi al-Fiqhi al-Islami: Doktor Sahir Rasyad Muhanna.Dar as-Syuruq.

5 - al-Fawa`idu al-Jinniyyah : Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani al-Indonesi, Dar al-Fikr Bairut Libanon,1417-1997.

6 - al-Asybahu Wa an-Nazho`ir Fi Qawa`idi Wa Furu`i Fiqhi as-Syafi`iyyah, al-Hafiz Sayuthi, Maktabah at-Taufiqiyyah, Cairo.

1 komentar:

Nugroho mengatakan...

mohon maaf, selain golongan salafi/wahabi, golongan mana lagi yg lebih cenderung atau bahkan menyokong penyatuan mazhab?

Wassalam,



Nugon