Kamis, 08 Juli 2010

Sudut kesufian Sultan Salahuddin al-Ayubi


Nama lengkap Sultan Salahuddin adalah Abu Mudzaffar Yusuf bin Pangeran Najamuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya`qub ad-Duwini at-Tikriti.

Lahir di kota Tikrit bahagian Iraq pada tahun 532 hijriyah, karena ketika itu ayahnya diangkat menjadi pejabat penguasa Tekrit.

Mendengarkan hadis dari al-Hafiz Abu Tohir as-Silafi, al-Faqih Ali bin Binti Abi Sa`ad, Abu Tohir bin `Auf, al-Quthb an-Naisaburi.





Berkata al-Hafizh adz-Dzahabi " Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk berjihad dan menghancurkan musuh, tidak pernah terdengar seperti beliau selama ini". ( Siyar A`lam an-Nubala` : 15 / 454 ).



Berkata al-Hafizh Tajuddin as-Subki pada kejadian tahun 572 : " Kemudian beliau ( Salahuddin ) berangkat ke Iskandariyah dan selalu berbolak balik ke pengajian al-Hafizh as-Silafi untuk mendengarkan hadis, kemudian kembali pulang ke Mesir ( Kairo ) dan membangun kuburan Imam Syafi`i ( Tabaqat Syafi`iyah al-Kubra : 4 / 233 ).

Berkata al-Hafiz Ibnu Katsir : "Sesungguhnya beliau ( Salahuddin ) tidak meninggalkan harta dan barang yang banyak karena banyaknya pemberian, sadaqah, dan kebaikkannya kepada pegawainya, menteri-menteri, gubernur-gubernur sehingga kepada musuhnya juga, sebagaimana yang telah lewat telah cukup di sebutkan, beliau berpakaian yang murahan, memakan makan makanan yang murah harganya, meminum minuman yang murah harganya, menaiki tunggangan yang murahan juga, beliau hanya memakai pakaian yang terbuat dari kapas, katun, dan wool. ( Bidayah Wa an-Nihayah : 7 /5 ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : Ini bukti kehidupan Salahuddin yang di hiasi dengan kezuhudan dan kesederhanaan, wujudnya nilai-nilai kesufian di jiwa Salahuddin, walaupun beliau memiliki dan menguasai negeri yang luas tetapi beliau tetap tidak terpengaruh dengan kekayaan dunia, beliau tidak pernah bermegah-megah dengan pakaian, makanan, dan minuman. Hal ini tidak dapat di ungkirkan betapa besarnya pengaruh tasawuf didalam diri beliau.

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir : " Beliau tidak pernah melakukan perkara yang di benci , terlebih-lebih ketika Allah telah memberikan nikmat kerajaan kepadanya, bahkan cita-citanya dan tujuannya yang paling besar adalah menolong agama islam dan menghancurkan para musuh islam yang jahat, dan beliau mengikuti pandangan dan pendapatnya juga pendapat orang-orang yang beliau percayai siang dan malamnya, ini kelebihan dan keistimewaannya. ( Bidayah Wa an-Nihayah : 7 /5 ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : Beginilah gambaran kehidupan dan ketakwaan beliau, ini semua pengaruh besar ulama-ulama sufi yang hidup beserta beliau, tidak seperti raja-raja wahabi yang sibuk memperkaya diri dan tidak memikirkan nasib umat islam di Palestina, hidup dengan tumpukan harta, ketawa terbahak-bahak, menari-nari dengan musuh islam George Bush, berteman dengan Yahudi dan musuh-musuh islam.

Berkata al-Hafiz Ibnu Katsir : " Beliau ( Salahuddin al-Ayyubi ) senantiasa menjaga shalat fardhu yang lima pada awal waktunya dengan berjama`ah, menurut cerita beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjama`ah sebelum wafatnaya dengan masa yang lama, sehingga ketika waktu sakit yang membawanya menemui ajal, ketika itu Imam datang kepadanya dan shalatlah beliau bersamanya dalam keadaan berdiri walaupun tubuh beliau begitu lemah".( Bidayah wa an-Nihayah : 7 /5 ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : " Ini adalah semangat orang-orang sufi dalam beribadah kepada Allah walaupun dalam keadaan sakit keras ".

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir : " al-Quthub an-Naisaburi telah mengumpulkan permasalahan Aqidah yang kemudian di hafal oleh Salahuddin dan di hapal oleh anak-anaknya yang telah berakal, beliau sangat suka sekali mendengarkan al-Qur`an, al-Hadis dan ilmu, beliau selalu menghadiri majlis pembacaan hadis ". ( Bidayah Wa an-Nihayah : 7 / 5 ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : " Syeikh al-Quthub an-Naisaburi adalah seorang sufi yang beraqidahkan Asya`irah, beliau merupakan guru Salahuddin al-Ayyubi didalam ilmu Aqidah dan Tasawuf, sebab itulah aqidah Salahuddin adalah Asya`irah dan berpegang teguh dengan tasawuf".

Berkata al-Hafizh Ibnu Atsir : " Adapun ketawadhukan Salahuddin sangat jelas sekali, beliau tidak pernah berlaku sombong terhadap teman-temannya, beliau sangat mencela raja-raja yang takabbur, orang-orang faqir dan sufi senantiasa hadir ke majlisnya, dan beliau membuat acara mendengarkan musik sufi, apabila berdiri salah seorang sufi ingin menari kesufian maka beliaupun berdiri sampai selesai tarian sang sufi tersebut, beliau tidak pernah melaksanakan hal-hal yang di ingkari oleh syari`at islam, beliau memiliki ilmu, makrifah, mendengarkan hadis dan membacanya kepada orang lain, sangat jarang sekali seperti beliau pada masanya, memiliki banyak kebaikkan, amal yang bagus, jihad yang sangat besar terhadap orang-orang kafir, penaklukkannya terhadap negeri-negeri yang telah dikuasai orang kafir menunjukan besarnya jihad beliau. ( al-Kamil Fi at-Tarikh : 10 / 230 ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : Dari ungkapan al-Hafiz Ibnu Atsir ( seorang ulama besar yang hidup semasa dengan Sulton Salahuddin al-Ayyubi ) sangat jelas sekali betapa mulyanya orang-orang sufi di pandangan Sultan yang adil dan baik, hal ini juga membuktikan betapa besar pengaruh tasawuf didalam kehidupan Salahuddin al-Ayyubi.

Berkata al-Hafizh Ibnu Atsir : " Adapun Salahuddin kembali pulang ke Halab pada tanggal tiga Sya`ban, setelah beliau memasuki kota Halab, kemudian beliau berjalan menuju kota Damsyiq, setelah itu beliau meninggakan tentera bahagian timur seperti Imaduddin Zanki ibn Maudud pemilik Sanjar dan al-Khabur, tentera al-Maosul dan lain-lainnya, seterusnya beliau berjalan dari Halab ke Damsyik dengan mengambil jalan menuju kuburan Umar bin Abdul Aziz dan menziarahinya, setelah itu beliau menziarahi Syeikh Abu Zakaria al-Maghribi seorang hamba Allah yang soleh yang memiliki banyak karamat yang nyata, dan ikut juga beserta Salahuddin Pangeran `Izzuddin Abu Falitah Qasim bin al-Muhanna al-Alawi al-Huseini, beliau adlah seorang gubernur kota Madinah Nabi Muhammad s.a.w., beliau mengikuti Salahuddin didalam peperangan dan penaklukan, Sultan Salahuddin selalu bertabaruk dengan melihatnya ( Pangeran Izzuddin ) dab berharap kebaikan dengan bersahabat dengannya, beliau ( Salahuddin ) sangat menghormatinya dan sangat senang dengannya, dan selalu mendengarkan kata-katanya". ( al-Kamil Fi at-Tarikh : 10 / 162 ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : " Dari ungkapan al-Hafiz Ibnu Atsir menjadi lebih jelas lagi bagaimana sudut kesufian Salahuddin al-Ayyubi dengan menziarahi kuburan Khalifah yang adil Umar bin Abdul Aziz, perbutan ini hanya dilakukan oleh orang-orang sufi saja, sebab menurut golongan Wahabi dan nenek moyang mereka tidak boleh menziarahi kuburan dengan menempuh jarak yang jauh, bagi mereka menziarahi seorang wali seperti Umar bin Abdul Aziz adalah perbuatan syirik yang wajib di basmi.

Kemudian Salahuddin bukan hanya menziarahi Umar bin Abdul Aziz bahkan beliau juga menziarahi seorang sufi terkenal dengan kesolehan dan karomahnya beliau mengambil barokah dari wali tersebut.

Bukan hanya sampai disitu bahkan beliau mengambil tabaruk dengan melihat Pangeran Izzudin yang merupakan orang yang soleh keturunan dari Sayyidina Husein cucu Rasulullah s.a.w., golongan wahabi sangat mengharamkan tabaruk kepada orang-orang yang bukan nabi, perbuatan Salahuddin ini merupakan perbuatan orang-orang sufi yang memperbolehkan tabaruk dengan orang-orang soleh.

Dari kajian yang singkat ini menunjukkan bahwa Salahuddin seorang sufi yang handal tampil didalam medan jihad, setelah nyata kesufian Salahuddin al-Ayyubi golongan wahabi akan mengatakan bahwa Salahuddin seorang manusia biasa yang bisa saja tersalah didalam berbagai macam masalah termasuk sudut kesufiannya.

Tapi nampaknya golongan wahabi telah mengingkari ijmaknya ulama dan para sejarawan tentang kebaikkan dan kebagusan pribadi Salahuddin al-Ayyubi, apakah orang seperti beliau yang telah meninggikan agama islam memiliki kesalahan didalam i`tiqad dan pegangan, dengan begitu golongan wahabi sangat terasing sekali dari umat islam dan ulamanya, sebab umat islam dan ulamanya dari dahulu sampai sekarang masih lagi memuji-muji Salahuddin sementra golongan wahabi menghina Salahuddin al-Ayyubi karena kesufiannya, adakah pahlawan wahabi seperti Salahuddin al-Ayyubi, yang banyak adalah pahlawan wahabi yang membunuh umat islam dengan bom-bom mereka, sampai kapankah mereka mau sadar bahwa pikiran mereka sangat terasing dari pikiran islam dan syariatnya, jawabannya tentu golongan wahabi tetap pada pegangannya karena menurut mereka apa yang mereka pegang adalah yang paling benar dan selainnya adalah salah dan sesat, kalau begitu bagi merekalah surga semuanya sebab mereka yang paling benarnya.......tapi tunggu dulu kita lihat saja di akhirat nanti siapa yang masuk surga siapa pula yang ke neraka.




Sumber rujukkan :

1 - al-Bidayah Wa an-Nihayah, karangan al-Hafizh Ibnu Katsir, terbitan Dar Hadis, Cairo.

2 - Siyar I`lam an-Nubala` , karangan al-Hafizh adz-Dzahabi, terbitan al-Maktabah at-Taufiqiyah , Cairo.

3 - Tabaqot Syafi`iyyah al-Kubra, karangan al-Hafizh Tajuddin as-Subki, terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah Bairut Lubnan.

4 - al-Kamil Fi at-Tarikh, karangan al-Hafizh Ibnu Atsir , terbitan al-Maktabah at-Taufiqiyah , Cairo

1 komentar:

khairul abidin abdul majid mengatakan...

www.kesufian.com untuk berkongsi ilmu sufi