Senin, 25 Mei 2009

Dialog bermadzhab

Diskusi dalam bermadzhab

Pada sa`at ini semakin banyak orang yang merasa mereka lebih hebat dibandingkan ulama ulama dahulu, mereka mencoba menebarkan slogan untuk tidak bermadzhab, tetapi mengambil hukum dari al-Qur`an dan Sunnah secara langsung, slogan ( semboyan = perkataan ) berhukum al-Qur`an dan hadits benar tetapi memiliki tujuan yang salah, dan akan menghasilkan kesalahan yang besar, adapun diantara dalil – dalil yang di ucapkan oleh mereka yang anti madzhab ialah :

Jumat, 15 Mei 2009

Pengertian bermazhab dan

Pada zaman sekarang ini telah banyak kita lihat golongan yang anti dan berusaha untuk menyerang dan membasmi madzhab-mahzhab yang masyhur, dengan alasan kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan sunnah bukan berpegang teguh dengan madzhab, tidak pernah kita dapati didalam al-Qur`an atau didalam hadits Rasulullah untuk menyuruh kita bermadzhab, bahkan para pendiri madzhab sendiri pun melarang mengikuti jejak mereka, hal ini sangat aneh sekali, mereka mati-matian mengajak orang agar meninggalkan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Ahmad, tetapi mereka juga sengaja menarik orang untuk mengikuti pemikiran dan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah, apakah mereka tidak tahu bahawa mengikut pendapat Ibnu Taimiyah juga disebut mengikuti madzhab, atau mungkin mereka terlupa, juga mungkin karena ta`asub yang berlebih-lebihan terhadap Ibnu Taimiyah, atau juga mungkin hasad dan dengki dengan pendiri para Madzhab, kalau tidak sebab-sebab itu niscaya mereka tidak akan keberatan terhadap seseorang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, atau Syafi`i. kenyataan ini telah kita lihat sendiri, jikalau kita kata Ibnu Taimiyah saja yang berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah, maka maknanya madzhab-madzhab yang lain tidak benar, sebab menurut pandangan mereka ( orang yang tidak bermazhab atau golongan Wahabi ) bahwa Taimiayah yang benar, disini mereka terlupa bahwa Ibnu Taimiyah seorang manusia bukan seorang nabi yang tidak berdosa, wajarkah kita larang seseorang bermadzhab, sementara kita sendiri mengikuti madzhab seseorang, jikalau kita sebutkan seperti ini maka mereka tidak akan mengaku dengan sebenarnya, bahkan mencoba untuk memutar balikkan Fakta, dengan ucapan kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah, tetapi yang menjadi pertanyakan dibenak hati saya adalah apakah pendiri-pendiri Mazhab tidak mengikuti al-Qur`an dan al-Sunnah? tentu mereka menjawab " Sudah tentu para pendiri madzhab mengikut al-Qur`an dan as-Sunnah tetapi mereka manusia yang mungkin memiliki kesalahan", jadi menurut mereka ( anti mazhab ) karena adanya kesalahan pada ulama mujtahid maka mereka mengambil al-Qur`an dan Sunnah secara langsung, ini membuktikan mereka tidak akan tersalah dalam menentukkan hukum dalam berijtihad, jikalau sekiranya mereka sadar diri dengan kemampuan meraka niscaya mereka akan berpegang teguh dengan mana-mana mazhab yang empat.

Pada kesempatan ini saya hanya mencoba untuk memaparkan beberapa dalil yang menjadi pegangan masyarakat awam dalam mengikuti madzhab yang empat, beserta makna dan tujuan " Madzhab " dan bila timbulnya madzhab, dalam kesempatan lain insyaallah saya akan ketengahkan segala dalil-dali yang membatalkan anggapan-anggapan bahwa mengikuti mazhab adalah bid`ah.

Pengertian Madzhab

kalimat Madzhab berasal dari bahasa Arab yang bersumberkan dari kalimat Dzahaba, kemudian diobah kepada isim maf`ul yang berarti, Sesuatu yang dipegang dan diikuti, dalam makna lain mana-mana pendapat yang dipegang di ikuti disebut madzhab, dengan begitu madzhab adalah suatu pegangan bagi seseorang dalam berbagai masalah, mungkin lebih kita kenal lagi dengan sebutan aliran kepercayaan atau sekte, bukan hanya dari permasalahan Fiqih tetapi juga mencakup permasalahan `Aqidah, Tashawuf, Nahu, Shorof, dan lain-lain, didalam Fiqih kita dapati berbagai macam madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi`i, didalam `Aqidah kita dapati madzhab `Asya`irah, Maturidiyah, Muktazilah, Syi`ah, didalam Tashawuf kita dapati madzhab Hasan al-Bashri, Rabi`atu adawiyah, Ghazaliyah, didalam Nahu kita dapati madzhab al-Kufiyah dan madzhab al-Bashriyah.

Tumbuhnya Madzhab Fiqih

Pada zaman Rasulullah SAW " madzhab" belum dikenal dan digunakan karena pada zaman itu Rasul masih berada bersama sahabat, jadi jika mereka mendapatkan permasalahan maka Rasul akan menjawab dengan wahyu yang diturunkan kepadanya, tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia, para shahabat telah tersebar diseluruh penjuru negeri Islam, sementara itu umat islam dihadirkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut para shahabat berfatwa untuk menggantikan kedudukan Rasul, tetapi tidak seluruh shahabat mampu berfatwa dan berijtihad, sebab itulah terkenal dikalangan para sahabat yang berfatwa ditengah sahabat-sahabat Rasul lainnya, sehingga terciptanya Mazhab Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Sayyidah `Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Mas`ud dan yang lainnya, kenapa shahabat-sahabat yang lain hanya mengikuti sahabat yang telah sampai derajat mujtahid, karena tidak semua sahabat mendengar hadits Rasul dengan jumlah yang banyak, dan derajat kefaqihan mereka yang berbeda-beda, sementara Allah telah menyuruh mereka untuk bertanya kepada orang yang `Alim diantara mereka.

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Artinya : Hendaklah kamu bertanya kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui

Pada zaman Tabi`in timbul pula berbagai macam madzab yang lebih dikenal dengan madzhab Fuqaha Sab`ah ( Madzhab tujuh tokoh Fiqih) di kota Madinah, setalah itu bermunculanlah madzhab yang lainnya dinegeri islam, seperti madzhab Ibrahin an-Nakha`i, asy-Syu`bi, sehingga timbulnya madzhab yang masyhur dan diikuti sampai sekarang yaitu Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah, Hanabilah, madzhab ini dibenarkan oleh ulama-ulama untuk diikuti karena beberapa sebab :

1 - Madzhab ini disebarkan turun-temurun dengan secara mutawatir.

2 - Madzhab ini di turunkan dengan sanad yang Shahih dan dapat dipegang .

3 - Madzhab ini telah dibukukan sehingga aman dari penipuan dan perobahan .

4 - Madzhab ini berdasarkan al-Qur`an dan al-Hadits, selainnya para empat madzhab berbeda pendapat dalam menentukan dasar-dasar sumber dan pegangan .

5 - Ijma`nya ulama Ahlus Sunnah dalam mengamalkan empat madzhab tersebut

Rabu, 06 Mei 2009

al-Hafizh abad kelima belas

Kita telah melewati seperempat awal abad kelima belas hijriyah, tetapi tidak seorangpun kita lihat seorang ulama yang telah sampai derajatnya kepada al-Hafizh, ini membuktikan kekurangan umat islam pada zaman ini dalam mempelajari ilmu hadits dengan sedalam-dalamnya, tetapi yang anehkan dan mengejutkan ialah apabila kita lihat menjamurnya orang-orang yang mengaku menjadi Mujtahid atau mengambil hukum secara langsung dari al-Qur`an dan Hadits, sungguh mengherankan, apakah pernah kita lihat seorang mujtahid tidak sampai derajat al-hafiz?, tapi mungkin kita lihat mujtahid tersebut tetapi pada abad kelima belas hijriyah, coba kita lihat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi`i, Imam Ahmad, derajat mereka didalam bidang hadits bukan hanya sampai kepada al-Hafizh, maka nyatalah bila seorang mengaku mujtahid tetapi tidak sampai derajatnya kepada al-Hafizh, maka orang tersebut tidak berkaca diri, atau cermin dirumahnya pecah sehingga tidak mampu untuk bercermin, para ulama tidak menutup pintu ijtihad terbukti usul fikih masih di pelajari diseluruh sekolah agama, tetapi siapakah yang mampu menaiki jenjang ijtihad dengan sebenarnya, boleh saya katakan pada zaman kita ini tidak ada yang sampai derajat Mujtahid, baik apa saja titelnya, doktetorkah, syeikhkah, ini jikalau kita mengakui secara jujur, tetapi kalau kita mengaku secara emesional dan sombong maka setiap orang akan mengaku beliaulah yang telah sampai derajat mujtahid.

Kembali kepokok permasalahan apakah makna al-Hafizh ? para ulama berbeda pendapat dalam mendefenisikan al-Hafizh, itu semua tertumpu kepada banyaknya menuntut ilmu Hadits, hafalan dan sempurnanya pengetahuan dalam ilmu hadits secara dirayah dan riwayah.

Syeikh saya Syeikh Mahmud Said Mamduh menukilkan didalam kitabnya " Tazyinul alfazh" defenisi al-Hafizh menurut al-hafizh Tajuddin as-Subki : " Muhaddiits ialah seseorang yang mengetahui sanad-sanad dan `illat-`illat hadits, nama-nama periwayat hadits, mengetahui sanad yang tinggi dan rendah, dan menghapal matan hadits dengan jumlah yang banyak, mendengar kutubus sittah, Musnad Imam ahmad, Sunan Baihaqi, mu`jam-mu`jam Thabrani, kemudian seribu juzu` dari juzu` kitab hadits, ini paling rendah derajat Muhaddits.

Imam al-hafiz Saidinnas berkata: al-Muhaddits pada masa kita ialah seseorang yang sibuk dengan hadits secara dirayah dan riwayah dan mengumpulkan riwayat-riwayat hadits, melihat dan mengetahui periwayat dan riwayat-riwayat pada masanya, sehingga terkenal dan tulisannya di ketahui orang, tingkat kekuatan hafalanya yang mashur, jika dia memiliki pengetahuan diatas itu, sehingga dia mengetahui guru-gurunya, guru-guru dari gurunya, dan tiap-tiap generasi periwayat, lebih banyak mengetahuinya dari pada yang tidak diketahui, maka ini disebut al-Hafizh.

kesimpulan yang perlu kita ambil didalam derajat al-Hafiz adalah apayang telah di simpulkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-`Asqalani didalam kitabnya Nukat ala Ibni Shalah (1/268 ), al-Hafizh as-Sakhawi didalam al-Jawahi Wa ad-Duraru : ( m : 30 ):

1 - Masyhur dalam menuntu ilmu hadits dan mengambil riwayat dari mulut para ulama, bukan dari kitab-kitab hadits saja.

2 - Mengetahui dengan jelas Thabaqat generasi periwayat dan kedudukan mereka.

3 - mengetahui Jarah dan ta`dil dari setiap periwayat, dan mengenal mana hadit yang shahih atau yang Dhaif, sehingga apa yang dia ketahui lebih banyak dari pad yang tidak diketahuinya, juga menghapal banyak matan haditsnya.

inilah batasan-batasan yang mesti dilalui oleh seseorang jika ingin menjadi al-Hafizh, dengan makna lai n walaupun tahap hapalannya banyak tetapi tidak mempelajari hadits dari seorang guru maka tidak boleh dianggap al-Hafizh, dari keterangan diatas siapakah yang telah memiliki syarat seperti ini, jika kita jawab secara jujur maka tidak ada yang sampai derajat tersebut seorangpun pada seperempat awal abad lima belas hijriyah, dari abad pertama sampai abad ke sepuluh masih banyak terdapat al-hafizh, tetapi mulai abad kesebelas hijriyah sampai abad ke empat belas hijriyah derajat al-hafizh semangkin berkurangan, lihat bagaimana kita hidup diabad yang serba kekurangan, walaupun university-univrsity tumbuh seperti cendawan di musim hujan, tetapi mereka hanya sibuk mempelajari buku-buku diktat dan sibuk mengejar Syahadah agar dapat bekerja. ini menunjukkan kepada kita kehebatan ilmu para ulama pada masa mereka dahulu, sehingga al-Hafizh adz-Dzahabi menuturkan bahwa Muhaddits pada zaman sebelumnya jika berada pada masa imam adz-Dzahabi niscaya akan digelar al-Hafizh, diantara perkataan beliau didalam biografi Abdul Aziz al-Kattani : Kemungkinan beliau digelar al-Hafizh pada masanya, jikalau beliau berada pada masa kita niscaya akan digelar al-Hafizh, pada abad yang ke empat belas hijriyah hanya seorang saja yang telah di gelar al-Hafizh, yaitu al-Hafizh Ahmad Bin Muhammad Shiddiq al-Ghumari wafat tahun 1380 hijriyah.

Tetapi yang sangat mengherankan adalah banyaknya orang yang tertipu daya dengan Syeikh Nashiruddin al-Bani pada zaman ini, sehingga seluruh apa yang di shahihkan dan Dhaifkan menjadi pegangan orang-orang bodoh dan awam, melebihi dari al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqaani dan ulama-ulama lainnya, padahal Al-Bani sendiri belum dapat digelar al-Muhaddits jika kita lihat dari syaratnya, beliau tidak memiliki seorang syeikh pun dalam belajar ilmu hadits, hanya sekedar melihat dari buku-buku hadits, apalagi sampai digelar al-hafizh, jauh langit dari bumi, sampai murid-muridnya yang terlalu fanatikpun tak mampu menggelar beliau al-Hafizh, mungkin mereka hanya gelar al-Bani Muhadts zaman Modren, benar beliau Muhaddits zamam modren tetapi bagi pendukung dan orang-orang Wahabi saja, adapun ulama Ahlu Sunnah Wal Jama`ah, mereka tidak mengakui beliau dan apa yang beliau shahihkan dan Dha`ifkan, karena al-Bani belum sampai lagi derajat Muhaddits. Wallahu a`lam.

Minggu, 03 Mei 2009

keikhlasan menuntut ilmu

Tidak dapat kita nafikan bahwa kadang-kadang kita tidak dapat mengikhlaskan diri untuk memuntut ilmu agama, terfikir dibenak kita, bahwa kita ingin mendapat sesuatu yang terbaik dengan dorongan ilmu yang kita pelajari, kemurnian hati ketika waktu belajar sangat sulit sekali kita dapati, sebahagiannya belajar hanya di sebabkan imtihan ( pereksa ), sebahagiannya lagi hanya disebabkan oleh selembar Syahadah, sebahagiannya lagi agar dapat pekerjaan, tapi adakah diantara kita yang berniat karena mengharap keridhaan Allah dan agar dapat mengamalkan apa yang telah di ketahui, inilah satu permasalahan yang sangat besar sekali, tetapi kurang ditanggapi.

Dengan adanya ketidak ikhlasan dalam menuntut ilmu, menyebabkan susutnya ulama-ulama Rabbani, hilangnya ulama-ulama akhirat, bahkan menumbuhkan ulama-ulama dunia yang siap untuk mati demi mendapatkan pangkat dan kedudukkan, ulama-ulama yang jahat bertebaran dimana-mana laksana jamur tumbuh di musim hujan, ini adalah sebab ketidak ikhlasan seseorang dalam menuntut ilmu.

diantara ketidak ikhlasan menuntut ilmu adalah banyaknya dukalangan kita yang hanya sibuk membaca Muqarar kuliah, membaca muqarar tidak salah, tapi yang salah hanya sekedar membaca muqarar, ada lagi yang lebih mengherankan jika kita membaca buku muqarar sebahagian pelajar yang mereka meminta agar dibaca muqarar yang peru-perlu saja, agar cepat selesainya, ini adalah kenyataan yang ada, jika semestinya kita tersebut habis dibaca selama enam kali pertemuan, maka mesti dapat di habiskan dengan dua kali pertemuan saja, bagaimanakah kita mau alim, marilah kita bersama-sama membetulkan niat untuk belajar, agar mendapat keridhaan Allah.

Tariqah al-Hushafi

Tariqah al-Hushafiyah

1 - Pengertian Tariqah al-Hushafiyah

Tariqah Al-Husofiyah adalah salah satu cabang dari tariqah asy-Syadzuliyah yang ada di dunia ini, sementara Tariqah Syadzuliyah adalah salah satu metode yang diajarkan dan didirikan oleh Qutub Rabbani Imam Abu Hasan Syadzuli RA, yang di kuburkan di lembah Aidzab Humaitsarah Mesir. Diantara cabang-cabang tariaqah Syadzuliyah adalah : " Tariqah Syadzuliyah al-Faasiyah, Syadzuliyah ad-Darqaawiyah, Syadzuliah al-Faidhiyah, Syadzuliyah ash-Shiddiqiyah, Syadzuliah al-Mahrusiyah, Syadzuliayah al-Muhammadiyah, Syadzuliyah Ibrahimiyah, Syadzuliyah al-Hamidiyah, Syadzuliyah al-Qawuqjiyah dan Syadzuliyah al-Hushafiyah.

Dengan demikian tariqah al-Hushafiyah adalah bahagian dari tariqah asy-Syadzuliyah, setiap cabang dari tariqah Syadzuliyah dinamakan juga dengan cabang-cabang madrasah Syadzuli, sebab setiap cabang-cabang yang ada memiliki dzikir dasar yang diambil dari dzikir dan amalan Imam Syadzuli, tetapi para pendiri cabang Syadzuliah memasukkan sebahagian amalan yang diamalkan oleh Imam Syadzuli, adapun diantara amalan-amalan yang berasalkan dari Imam Syadzuli adalah :

1 – Dzikir dasar, terdiri dari istigfar sebanyak seratus kali, Shalawat Nabi al-Ummi yang mashur sebanyak seratus kali, dan kalimat Hailulah ( لا إله إلا الله ), sebanyak seratus kali diamalkan pada waktu pagi dan petang setiap harinya.

2 – Hizib Bahar diamalkan pada setelah waktu `Ashar, boleh juga diamalkan setiap setelah selesai Shalat Fardhu.

3 – Hizib Nashr,

4 – Shalawat Ibnu Masyisy, yang Imam Syadzuli terima dari gurunya Ubnu Masyisy.

Adalagi amalan yang diamalkan oleh sebahagian cabang tariqah Syadzuliyah yang mereka nisbahkan amalan itu kepada Imam Syadzuli tetapi apa yang kami kemukakan adalah bahagian yang sangat terpenting dan masyhur di kalangan ahli tarikat Syadzuliyah .

Pendiri Tariqah al-Hushafiyah

A - Nama lengkap dan keturunan beliau

Pendiri Tariqah al-Hushafiyah adalah Imam Syeikh Sayyid Hasanain al-Hushafi, nama lengkap beliau adalah Hasanain anak dari Sayyid Husein at-Tuhami anak dari Sayyid Hasanain ash-Shaghiir anak dari Sayyid Hasanain al-Kabiir anak dari Syyid Umar anak dari Sayyid Ayyub masyhur digelar dengan Unyif, yang bermukim di Kafr al-Hashafah daerah Quluyubih, anak dari Sayyid Sinjar yang bermukim di Minniyah Kinanah setelah datang dari tanah Hijaz ( Makkah dan Madinah ), beliau menetap dikampung tersebut sampai meninggal dunia, kemudian beliau dikuburkan dikampung tersebut, kuburannya banyak diziarahi orang, beliau anak dari Sayyid Hajjaj anak dari Sayyid Sayyid Qasim anak dari Sayyid Muhammad anak dari Sayyid Ahmad, anak dari Sayyid Ibrahim, anak dari Sayyid Qasim, anak dari Sayyid Thahir, anak dari Fathuddin, anak dari Sayyid Yusuf, anak dari Sayyid Ahmad, anak dari Sayyid Ibrahim, anak dari Sayyid `Ali, anak dari Sayyid Sinjar, anak dari Sayyid Thaha, anak dari Sayyid Hasan, anak dari Sayyid Dahman, anak dari Sayyid Musthafa, anak dari Sayyid Ibrahim, anak dari Sayyid Qasim, anak dari Sayyid Zaid al-Ablaj, anak dari Sayyid al-Hasan, anak dari `Ali Bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah, beliau anak dari Sayyidina Muhammad SAW.

B - Kelahiran dan pertumbuhan beliau

Imam Hasanain al-Hushafi dilahirkan pada tahun 1265 Hijriah di sebuah kampung yang indah dan permai bernama " Kafr Hashafah " dari bahagian daerah Quluyubiyah Mesir, dari pasangan suami isteri yang ta`at beribadah dan beramal shaleh yang memiliki keturunan dengan Nabi Muhammad SAW, beliau tumbuh dan membesar di kampung halaman atas peliharan ayahnya yang tercinta, sehingga beliau menghafal al-Qur`an dan tumbuh dewasa, pada tahun 1277 Hijriah beliau berangkat ke Azhar asy-Syarif untuk menuntut ilmu agama, dan umurnya ketika itu masih mencecah duabelas tahun, dalam menuntut ilmu beliau sangat bersungguh-sungguh dan bergiat sehingga mampu memahami seluruh ilmu secara baik, diantara guru beliau adalah Hasan al-Murashafa dan guru-guru yang semasanya.

Beliau tidak hanya sibuk dengan menuntut ilmu, tetapi juga tekun dalam beribadah, kebanyakkan waktunya berada di Jami` al-Azhar, membaca seperempat al-Qur`an setiap harinya, bersalawat kepada Nabi sebanyak seribu kali setiap harinya, sehingga Allah membukakan kepadanya pintu ilmu dan makrifah.

2 - Mengambil Tariqah dan menyebarkannya

A – Mengambil tariqah dari para Ulama

Setelah beliau mempelajari seluruh bidang ilmu yang ada di Azhar Syarif, maka mulailah beliau menekuni ilmu Tasawuf dengan mengambil tariqah Khalwatiyah dari Syeikh Husein Bin Hasan al-Mushailahi, pada tahun 1288 Hijriyah beliau bertemu dengan Syeikh Abu Abdillah Muhammad asy-Syadzuli al-Fasi, kemudian beliau mengambil tariqah Syadzuliyah dari Syeikh tersebut, dan beliau dizinkan untuk menyebarkannya kepada siapa saja yang sudah mampu untuk menerima tariqah, kemudian beliau ditalqinkan dengan tariqah Syadzuliyah oleh Syeikh Muhammad `Ulayisy al-Maliki pada tanggal 1293 Hijriayah, kemudian beliau mengambil tariqah syadzuliyah dari Syeikh Hasan al-`Adawi al-Hamzawi asy-Syadzuli pada tahun 1295 Hijriyah, dan tahun 1297 beliau mengambil tariqah Tijaniyah dari Syeikh Ahmad al-Banani.

B – Menebarkan Tariqah Syadzuliyah

Imam Hasanain al-Hushafi memiliki keteguhan dan ketekunan dalam menyebarkan tariqah Syadzuliyah, baik dari Cairo, Zaqaziq, Bilbis, Tonto, Damanhur dan di sekitar negeri mesir lainnya.

Banyak dikalangan pelajar agama dan orang awam yang mengambil tariqah secara langsung dari beliau, nama beliau menjadi masyhur dan terkenal dengan tareqahnya yang penuh dengan amalan-amalan yang baik dan jauh dari perbuatan-perbuatan bid`ah, sehingga Syeikh Hasan al-Banna memuji beliau didalam sebuah buku beliau : Mudzakarah Da`i wa Da`iyah " dan beliau juga mengambil tariqah al-Hushafi dari anak Syeikh yang bernama Muhammad Abdul Wahab Bin Hasanain al-Hushafi asy-Syafi`i.

Diantara murid-murid yang mengambil langsung dari beliau adalah : Syeikh Muhammad Abdul Wahab Bin Hasanain al-Hushafi, Syeikh `Ali al-Ja`farawi, Ahmad az-Zurqani, Muhammad al-Qafash.

Didalam dzikir dan amalan tariqah al-Hushafi terdapat dua bahagian, amalan Syadzuliyah dan amalan Tijaniyah, kedua amalan tersebut diamalkan oleh pemeluk tariqah ini, dianta amalan Syadzuliyah yang ada di Hushafiyah adalah :

1 – Dzikir dasar Syadzuli
2 – Hizbul Bahar.
3 – Hizbu an-Nashr
4 – Hizbu al-Kanaf
6 – Shalawat Masyisyiyah
7 – Shalawat Yaqutiyah
8 – Safinatun Naja ( Ma`tsuraat pagi dan petang )
9 – Musabbi`aat.
10 – Surah al-Muluk.


Wafatnya Syeikh dan penggantinya

A – Wafat Syeikh

Setelah Syeikh Hasanain berhasil menebarkan Tariqah di penjuru mesir, sehingga memiliki banyak pengikut yang kebanyakkanya dari kalangan para ulama, maka beliau menghembuskan nafas untuk yang terakhirnya dengan rasa puas dan gembira berjumpa dengan Allah SWT, beliau meninggal dunia setelah sakit menimpanya di kota Damanhur pada malam kamis tanggal 17 jumadil awal tahun 1328 Hijriyah, seluruh para murid dan masyarakat merasa sedih dengan wafatnya seorang ulama yang mengamalkan al-Qur`an dan Sunnah, beribu-ribu pelayat hadir untuk menyembahyangkan dan menguburkan orang yang mereka cintai, isak tangis tidak terbendung menetes di pipi para hadirin yang datang, menambah keadaan menjadi sedih dan duka.

Syeikh Hasanain di kubur diperkuburan kota Damanhur, dibelakang Mesjid al-Hushafi, semoga Allah memberikan rahmat dan surganya kepada beliau.

B – Pengganti Syeikh

Setelah Syeikh Hasanain meninggal dunia, kedudukan Khalifah diserahkan kepada anak beliau Syeikh Muhammad Abdul Wahab Bin Hasanain, atas wasiat yang telah ditinggalkan oleh Syeikh Hasanain, seluruh murid Syeikh hasanain turut membai`ah Syeikh Muhammad Abdul wahab al-Hushafi, pilihan ini bukan hanya sebab beliau anaknya Syeikh, tetapi keilmuan dan kealimannya yang sangat menonjol dari kalangan anak-anak Syeikh Hasanain, pengangkatan tersebut mengiringi bertahannya Tariqah al-Hushafiyah yang telah didirikan oleh Syeik Hasanan, dintara murid Syeikh Muhammad Abdul Wahab al-Hushafi adalah Hasan al-Bana, dan Syeikh Abdul Fatah Qadhi dari sibelanjah, beliau ini gurunya Syeikh islam Imam Akbar Abdul Halim Mahmud, Syeikh azhar pada masanya. Syeikh Muhammad Abdul Wahab meninggal dunia pada hari jum`at tanggal 14 Rabi`ul awal tahun 1368 Hijriyah, dan dikuburkan diDamanhur disisi kuburan ayahnya Syeikh Hasanain Hushafi.

Senin, 27 April 2009

Influenza babi

Tersiar di seluruh televisi, surat kabar dan majalah berita tentang hebohnya virus Influenza ( sesema ) babi yang bersumber dari negara Maxico, ini adalah kekuasaan Allah yang Dia ingin tunjukkan kepada manusia, betapa kuasanya Allah dalam membuat penyakit yang sampai detik ini belum mampu diketahui obatnya, belum lagi virus Influenza burung yang menghantam dunia, membuat masyarakat manusia enggan untuk memakan ayam karena takut tertular, belum selesai masyarakat dunia dengan virus influenza ( sesema ) burung, datang pula virus yang mematikan dan menakutkan sehingga masyarakat dunia menjadi lebih berhati-hati dengan perkembangan yang cepat, sebahagian negara melarang warga negaranya untuk bermusafiran ke negeri Maxico, sebahagiannya lagi sibuk dengan menjaga warga yang berdatangan dari Maxico, sebab penyakit ini terbit dan bersumber dari Maxico.

Sudah lebih dari seratus orang meninggal dunia disebabkan serangan virus tersebut, virus ini penyebabnya tidak lain adalah babi yang Allah haramkan memakannya, negara-negra pengekspor daging babi merasa resah dan gelisah sebab akan menurunkan ekonomo mereka, tetapi yang perlu kita lihat ialah betapa bahayanya jika babi-babi yang berjuta-juta ekor banyaknya masih tetap hidup dengan tenang untuk membawa penularan virus yang menakutkan, sudah masanya masyarakat islam berdemontrasi untuk memohon agar seluruh ternak babi yang berada di negara muslim dimusnahkan dan di bakar, agar tidak menjangkit kepada kita umat islam yang tidak dibolehkan memakannya, negara Indonesia dan Malaysia adalah salah satu negara yang mengembangkan perternakkan babi, padahal warganya kebanyakkan dari orang-orang islam, yang sangat menakutkan ialah daerah Singapura yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dunia, mungkin saja virus ini akan masuk kenegara Singapura, disinlah negara Indonesia dan Malaysia dituntut untuk lebih berhati-hati menerima tamu dari luar negeri, selain dari membasmi habis kandang-kandang babi.

Dari kejadian ini terdapat hikmah kenapa Allah mengharamkan babi, marilah kita bergandeng tangan untuk membasmi babi dari negara kita tercinta.

Minggu, 26 April 2009

Maulid Sayidina Husein

Pada malam Rabu tanggal 25 Rabiul Akhir 1430 hijriyah telah dilaksanakan secara besar-besaran peringatan maulid Sayydina Husein ra, acara ini dihadiri oleh berjuta umat islam baik dari Mesir maupun negeri yang lainnya, turut hadir pada acara ini Syeikh Ibrahim Muraikhi Al-Bahraini, dari negeri Bahrain, Habib Faishol berasal dari Yaman, demikian juga tidak ketinggalan Syeikh Muhammad Ibrahim Bin Abdul Baits Al-Kattani hadir dan mengisi ceramah di Mesjid Sidi Dardir dan Mudayyafah Ismail Shadiq Al-Adawi, dalam ceramah ini beliau menceritakan bagaimana keimanan dan pengorbanan Imam Husein yang gagah berani, dalam kesempatan ini juga beliau menjawab segala pertanyakan yang datang dari pada hadirin yang memadati Mudhayafah.

Acara ini tujuannya adalah untuk menarik perhatian umat islam agar senantiasa cinta dan rindu dengan ahli bait Rasulullah, sebagaimana Rasul suruh, dan mengikuti jejak langkah mereka dalam menjalani kehidupan dunia ini, marilah kita bersama mengikut langkah jejak Rasululah, sahabat, dan Ahli Baitnya.

Minggu, 19 April 2009

Kitab Bidayah Al-Hidayah

Kitab Bidayah Al-Hidayah merupakan salah satu hasil karangan Imam Ghazali Rahimahullah, nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Bin Ahmad Al-Ghazali Ath-Thusi, beliau dilahirkan pada tahun 450 Hijriah di sebuah kota yang bernama Thus, bahagian negeri Kharasan, pada masa itu ilmu agama sangat berkembang pesat di Kharasan.

Sejak kecil beliau sudah muali belajar ilmu agama di kota kelahirannya dari seorang ulama yang bernama Ahmad Bin Muhammad Ar-Razakani, kemudian berhijarah ke kota Jurjan dan belajar dengan Syeikh Abu Nashar Al-Isma`ili, kemudian beliau pindah ke Naisaburi dan belajar dengan Imam A-Harmain, beliau mendapat ilmu yang banyak dengan kesungguhan dan kepenatan.

Setelah itu beliau diangkat untuk mengajar di Madrasah Nizhamiyah di kota Baghdad, setelah itu beliau meninggalkan Baghdad dan pindah menuju Syam, di kota Syam beliau beri`tikaf di menara bahagian barat Mesjid Umawy Damsyiq, kemudian berangkat menunaikan haji ke Makkah dan berziarah kepada Nabi Muhammad di Madinah, selanjutnya kembali ke Syam, di negeri Syam beliau banyak menghasilkan karya tulis seperti Ihya Ulumuddin, kemudian beliau kembali ketanah airnya tercinta negeri Thus tempat lahir, bermain, dan membesar, pada tahun 505 beliau menghembuskan nafas kali yang terakhir untuk berjumpa dengan Allah SWT, umat islam sangat berduka cita atas wafatnya serang ulama yang Rabbani.

Kitab Bidayah Al-Hidayah ini dibagi oleh Imam Ghazali kepada tiga bahagian :

1- Bahagian Ta`at kepada Allah
2 - Bahagian pelajaran tentang menjauhkan maksiat
3 - Bahagian adab berteman dan bergaul.

Bahagian ta`at kepada Allah di mulai dengan penjelasan dalam pelaksanaan Fardhu dan Sunnah, fardhu adalah modal perniagaan, sedangkan sunnah adalah keuntungan dalam perniagaan, kemudian beliau menjelaskan adab-adab setelah bangkit dari tidur, adab-adab masuk toilet ( WC ) , adab-adab berwuduk, adab-adab mandi, adab-adab tayamum, adab-adab keluar dari mesjid, adab-adab masuk mesjid, adab-adab setelah waktu terbitnya matahari sampai kepada waktu tergelincirnya matahari, adab-adab persiapan untuk melaksanakan shalat-shalat Fardhu, adab tidur, adab Shalat, adab-adab menjadi Imam dan Makmum, adab shalat jum`at, adab berpuasa.

Bahagian menjauhkan Maksiat, beliau memulainya dengan maksiat anggota yang tujuh :
1 - Mata, jangan melihat yang haram, gambar-gambar yang membawa kepada nafsu syahwat, melihat seorang muslim dengan pandangan yang hina.

2 - Telinga, menjauhkan mendengar dari sesuatu yang haram, bid`ah, mendengar Ghibah ( menceritai orang ) , mendengar ucapam-ucapan yang buruk.

3 - Lidah, menjauhkan dari dusta, menyalahi janji, menceritakan orang, berdebat, membersihkan dan memuliyakn diri sendiri, melaknat, mendo`akan terhadap makhluk Allah dengan do`a yang membinasakan, besenda gurau dan mengejek.

4 - Perut, menjaganya dari memakan yang haram dan Syubhat.

5 - Kemaluan, menghindari dari zina, dan yang diharamkan.

6 - Kedua tangan, menjauhkan dari memperbuat yang haram, memukul seorang muslim, mengambil harta yang haram.

7 - Kaki, menjaganya dari pergi ketempat yang haram, berjalan kepada pembesar dan pemerintahan.

Kemudian Imam Ghazali melanjutkan keterangannya dalam menjauhkan maksiat hati, diantaranya adalah hasad ( dengki ), Riya`, Ujub ( berbangga diri ).

Bahagian adb berteman dan bergaul beliau bahagi kepada lima bahagian :
1 - Adab bersama Allah SWT
2 - Adab menjadi seorang guru
3 - Adab menjadi seorang murid ( pelajar )
4 - Adab terhadap kedua ibu bapak.
5 - Adab kepada selain yang empat diatas

Sementara selain guru, dan kedua orang tua, ada lagi adab-adab yang bersangkut paut dengan manusia lainnya, yaitu :
1 - Adab terhadap teman karib
2- Adab terhadap kenalan
3 - Adab terhadap orang yang tidak dikenal

kemudian Imam Ghazali menyebutkan kriteria teman yang patut di kawani.
1 - Memiliki akal pikiran yang cemerlang
2 - Memiliki Akhlak yang baik
3 - Memiliki keshalihan dalam beribadah
4 - Tidak memiliki sifat rakus terhadap dunia
5 - Bercakap benar dan tidak berdusta

Inilah sebahagian muatan isi kitab Bidayah Al-Hidayah, yang sangat memiliki harga yang tinggi dan bagus, marilah kita memohon kepada Allah SWT agar kiranya kita dapat mengamalkan isi yang terkandung dari kitab ini.

Maulid Nabi dan penutupan pengajian

Pada Malam Ahad 23 Rabi`ul Akhir 1430 Hijriyah, setelah Shalat Maghrib telah diadakan majlis penutupan kaji sambil mengkhatamkan kitab Bidayah Wal Hidayah karangan Imam Ghazali dan Arbain Hadits karangan Syeikh Ismail Bin Utsman Zein Al-Makki di rumah Ustadz Muhammad Husni Ginting, acara ini juga di isi dengan Maulid Nabi SAW dan acara ulang tahun ( hari jadi ) saudara Azham Bin Azmi, pelajar kuliah lughah dari selangor Malaysia, acara ini di hadiri oleh kalangan pelajar Malaysia yang berada di kota Zaqaziq, juga sebagaian exco pelajar Malaysia Zaqaziq ( DPMZ ), tak ketinggalan juga sebahagian dari teman-teman yang berasal dari Tonto, Cairo, Mansurah, dan sibin koum.

Acara ini disuguhkan dengan bernasyid bersama dengan membacakan shalawat dan Qshidah Burdah, diharapkan acara ini terus berjalan setiap tahunnya, Pada kesempatan ini Al-Fadhil ustadz Muhammad Husni Ginting mengajak para hadirin agar berusaha mengamalkan apa yang telah diajarkan dan dipaparkan oleh Imam Ghazali didalam kitan beliau Bidayah Al-Hidayah, semoga selamat dunia dan Akhirat.

Selasa, 14 April 2009

Ayat Mutasyaabihaat

Hukum ayat Mutasyaabihaat

Ulama berbeda pendapat dalam memandang permasalahan ini, sehingga sebahagian mereka mencoba untuk menyesatkan golongan yang tidak sefaham dengan mereka, seperti pengikut Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim aj-Jauziyyah yang suka menyesatkan kebanyakkan ulama yang tidak sehaluan dengan mereka.

Selasa, 07 April 2009

Allah ada tidak bertempat

Ahlus Sunnah wal Jama`ah beri`tiqad bahwa Allah SWT tidak memiliki tempat, sebab tempat adalah sesuatu yang Alah jadikan, tidak diterima akal yang sehat bahwa Allah bertempat dan berbatas, demikian juga bertentangan dengan Firman Allah SWT :

ليس كمثله شيئ وهوالسميع البصير
Artinya : Allah tidak menyerupai sesuatu dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

I`tiqad ini adalah i`tiqad para ulama yang telah memperjuangkan pemahaman Alus Sunnah Wal Jama`ah, diantara para ulama yang telah menyatakan bahwa Allah tidak bertempat dan tidak ada batas.

Jumat, 03 April 2009

Berziarah ke Makam Syeikh Abu Hasan ASy-Syadzuli

Pada hari rabu tanggal 21 Rabi`ul awal 1430 H, bertepatan tanggal 18 Maret 2009, sejumlah pelajar Al-Azhar mengikit ziarah besr-besaran yang diselenggarakan oleh tarekat Hamidiyah Asy-Syadzuliyah, dengan sebanyak dua puluh bas besar, diantara pelajar yang mengikuti acara ini adalah sebanyak dua puluh lima Mahasiswa dari Indonesia, dan tiga puluh lima dari Mahasiswa Malaysia, diantara yang mengikuti ziarah ialah : Ust Muhammad Husni Ginting, Ust Khairul Nizham, dan banyak lagi.

Dalam perjalanan ini pelajar asia dipimpin oleh syeikh Yusri Rusydi Jabar, seorang ulama besar yang mendapat keizinan mengajar di Jami` Al-Azhar, beliau bermazhabkan Syafi`i dan bertarikatkan Syadzuli, beliau mendapat bai`ah dari Syeikh Abdullah Shiddiq Al-Ghumari.

Perjalanan sangan menyenangkan sekali, disekeliling jalan padang pasir yang dihiasi dengan gunung-gunung batu yang terjal, disebelah kiri nampak lautan merah yang membentang luas begitu indah membiru seolah-olah melambai menandakan kedamaian, hotel-hotel yang bagus dan indah bertebaran di tepi lautan merah, ini adlah pemandangan ketika kami melalui jalan mengarah ke Humaisara tempat dikuburkannya Syeikh Abu Hasan Syadzuli.

Lebih kurang pukul tiga pagi hari kamis kami telah sampai di Humaisara, setelah tidur sejenak, kemudian kami begegas untuk shalat subuh berjama`ah di Mesjid Syadzuli, kemudian kami mendengarkan pengajian yang disajikan oleh Syeikh Yusri, setelah itu kami bersama-sama mengarah ke Makam Syeikh Abu Hasan Syadzuli, siapakah beliau?

Syeikh Abu Hasan Syadzuli dilahirkan pada tahun 591 hijriah, bersambung keturunan beliau kepada Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib, di sebuah kota bernama Ghamarah, Maghrib ( Maroko ), beliau membesar di sebuah kampung bernama Bani Zarwil, kemudian berpindah ke Syadzalah sebuah kota yang berada di Tunis, disini beliau menimba ilmu sebanyak-banyaknya, dan setelah itu belajar ilmu tasawuf, mengambil bai`ah dari Syeikh Ibnu Masyisy atau Ibnu Basyisy, kemudian beliau berpindah ke Iskandariah.

Diiskandariah beliau banyak di datangi oleh ulama-ulama, diantara ulama yang hadir kedalam pengajian beliau adalah Sulthan Ulama Izzuddin Bin Salam, Al-Hafih Syeikhul Islam Ibnu Daqiq Al-Aid, Al-Hafizh Abdul `Azhim Al-Mundziri, Syeikh Al-Muqri` Abu Abdullah Asy-Syathibi dan lain-lain.

Beliau selalu melaksanakan haji ket tanah suci Makkah, ketika tahun 656 Hijriah, beliau bertekad untuk melaksanakan haji melewati lembah `Aidzab, melalui pegunungan Humaitsara, sebelum berangkat beliau berpesan kepada muridnya, bawalah cangkul ketika berangkat, sang murid bertanya, : buat apakah cangkul dibawa?, Syeikh menjawab " Fi Humaitsara saufa Tara, yangberarti : di Humaitsara kau akan tahu, setelah samapai di Humaitsara Syeikh melaksanakan Shalat dua raka`at kemudian menghembuskan nafas terakhir, inilah rupanya makna yang dituju oleh Syeikh, kemudian Syeikh Abu Abbas Al-Mursi memandikan, mengkapankan dn menyembahyangkan Syeikh, setelah itu beliau di kuburkan pada tempatnya yang dikenal sekarang.

Beliau sangat kuat memegang Sunnah Rasulullah, mengamalkan yang wajib dan sunnah, beliau juga pernah ikut perang dalam melawan tentera Salib yang berasal dari Perancis, pada peperang itu tentera umat ISlam mendapat kemenangan, beliau memiliki banyak karomah yang Allah berikan, sehingga beliau mendapati kedudukan yang tinggi disisi Allah dan Makhluknya.

Diantara Wasiat beliau :
1- Jika ingin wajah selalu bercahaya maka hendklah selau menjaga shalat malam
2- Jika ingn tidak kehausan di hari Qiyamat maka hendaklah lazimi puasa sunnah
3- Jika ingin terselamat dari siksaan kubur hendaklah berjaga dan berhati-hati dari Najis, Makanan yang haram, dan menolak syahwat.
4- Jika engkau ingin menjadi orang yag terkaya maka hendaklah besifat Qana`ah ( memadai )

Kamis, 02 April 2009

Kesungguhan menuntut ilmu

Pada zaman sekarang, zaman yang dipenuhi dengan berbagai peralatan canggih dan hebat, zaman komputer dan internet, begitu banyak peralatan-peralatan yang menggangu pelajar agama untuk menghasilkan ilmu, alat-alat tersebut boleh membantu pelajar untuk berjaya dan dapat bersaing dalam menjalani kehidupan ini, tetapi juga dapat menahan kecemerlangan dan keberhasilan, tidak mengherankan jika seorang pelajar sekarang dapat menghabiskan seluruh waktunya didepan vedio geme, mencampakkan masanya didepan internet, atau menghamburkan masanya dengan komputer, televisi, catur, dan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfa`at, kesalahan ini disebabkan niat yang tidak ikhlas untuk belajar, karena hanya mengejar ijazah dan syahadah, atau semangat yang sangat tipis, karena tidak memiliki jiwa untuk berkorban, hal ini membuat pelajar agama mensia-siakan waktunya tanpa membuat perkara yang berfaedah.

Sebab itulah seorang pelajar sangat memerlukan cara yang terbaik untuk memenuhi waktunya dengan ilmu dan amal, diantaranya ialah dengan mendengar atau membaca kisah-kisah ulama dalam menuntut ilmu, agar mereka tertarik dengan cerita ulama-ulama terdahulu, dan dapat mengamalnya, sehingga waktu yang ada tidak terbuang begitu saja.

Diantara kisah-kisah yang perlu kita jadikan pengajaran adalah :

1 - Kisah penuntutan ilmu Sahabat Rasulullah Abdullah Bin Abbas, : beliau adalah seorang sahabat Rasulullah yang alim dalam mentafsirkan Al-Qur`an, dan ahli dalam hadits, dimasa Rasul meninggal dunia beliau masih tergolong kanak-kanak yang baru beranjak remaja., hal ini membuat beliau bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu dan hadits dari mulut-mulut sahabat yang ada, dan betul-betul menjaga waktunya untuk belajar, beliau berkata : Tidak kulihat orang-orang yang paling banyak ilmunya kecuali pada golongan Al-Anshor, sebab itulah aku sibuk untuk belajar dari mereka, jika aku pergi ke rumah seorang Al-Anshor untuk menuntut ilmu, aku bertanya tentang orang tersebut, mereka menjawab beliau sedang tidur, maka aku ambil selendangku, kujadikan bantalku, kemudian aku berbaring untuk menunggu beliau bangun dari tidurnya, kemudian beliau keluar dari rumah untuk shalat Zhuhur, kemudian beliau berkata kepadaku: bilakah kau sudah berada disini wahai anak paman Rasulullah SAW, aku menjawab : " sudah lama , beliau berkata : " kenapa kau lakukan seperti itu, kenapa tidak kau beritahu kepadaku tentang kedatangan mu ?, aku menjawab : " aku ingin engkau keluar untuk mengajarku setelah kau selesaikan semua keperluanmu".( Sunan Ad-Darimi )

Lihat bagaimana Ibnu Abbas menuntut ilmu, beliau bersabar menunggu gurunya sehingga terbangun dari tidur, dari cerita diatas kita dapat melihat kesungguhan Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu, dan rasa penghoramatan beliau terhadap gurunya, padahal beliau memiliki kedudukkan yang tinggi disisi para shahabat, sebab beliau anak paman Rasul, jikalau beliau membangunkan shahabat Al-Anshari tersebut, niscaya shahabat tersebut akan terjaga dari tidur, tetapi beliau sangat menghormati gurunya, demikian juga beliau tidak langsung pulang kerumahnya, akan tetapi tetap bersabar, menunggu didepan pintu rumah shahabat tersebut untuk menanti gurunya keluar dari rumah, begitulah semestinya seorang pelajar.

Imam Ibnu Abbas berkata : Aku menghinakan diri kepada guruku untuk menuntut ilmu, dan Aku muliakan guruku dan ilmu. ( Sunan Ad-Darimi ).

Lihat bagaimana Ibnu Abbas memuliakan ilmu dan gurunya, demikianlah seorang murid mesti memuliakan dan menghormati gurunya agar mendapat ilmu yang bermanfa`at.

2 - kisah Imam Syafi`i dalam menuntut ilmu ; Imam Nawawi berkata: " Imam Syafi`i tumbuh dan membesar dalam keadaan yatim, hidup dalam pemeliharaan ibunya, hidup dalam keadaan susah dan payah, semenjak kecilnya beliau telah duduk mengaji dengan para ulama, dan menulis setiap mas`alah-mas`alah diatas tulang, karena tidak memiliki duit untuk membeli kertas.

Lihatlah Bagaimana rajin dan kuatnya semangat Imam Syafi`i dalam menuntut ilmu, walaupun uang tidak ada, tetapi tidak menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu, jika kita lihat pada diri kita sendiri, mungkin orang tua memiliki uang yang cukup, bahkan sebahagiannya konglomerat ( koprat),memiliki mobil ( kereta ) yang berkilat, rumah yang bertingkat-tingkat, badan sangat sehat, tidak pernah merasa penat, tetapi tidak mencari kesempatan yang ada untuk menuntut ilmu.

Dihikayatkan ketika Imam Syafi`i datang ke kota Madinah, belajar dengan Imam Malik, pada suatu hari, ketika beliau menghadiri majlis Imam malik, ketika itu Imam Malik sedang mengimlakkan ( mendektekan ) sebanyak delapan belas hadits, sedangkan imam Syafi`i duduk dibelakang sekali, kemudian Imam Malik mengarahkan pandangannya kepada Imam Syafi`i, sebab beliau menulis dengan jarinya ke telapak tangannya, ketika semua pelajar berpulangan, Imam Malik memanggil dan menanyakkan asal usul beliau, maka beliau menceritakannya, Imam Malik bertanya; " Aku melihat engkau mempermainkan jari ke telapak tanganmu", berkata Imam Syafi`i ; " Aku tidak memainkan jariku tetapi menulis hadits yang engkau imlakkan dengan jariku ke telapak tanganku, kalau guru mau, biar aku mengulangi kembali apa yang telah guru imlakkan, Imam Malik berkata : " sebutkanlah " , maka beliau menyebutkan seluruh hadits yang telah diimlakkan.

dari cerita diatas sangat perlu sekali kita meningkatkan kerajinan untuk belajar dan dapat meninggalkan seluruh pekerjaan yang melalaikan dari belajar agama.

3- Kisah Syeikh Ahmad Damanhuri Al-Banteni dalam menuntut ilmu, beliau adalah salah seorang guru penulis, yang meninggal dunia pada tahun 1426 Hijriah, dari semenjak kecil sudah belajar ilmu agama, kemudian berangkat ke Makkah belajar dengan ulama yang berada di sana, seperti Syeikh Umar Hamdan Al-Mahrisi, Syeikh Abdullah An-Niyazi, Syeikh Alawi Bin Abbas Al-Maliki, Syeikh Hasan Masyaath, dan lain-lain. setelah itu beliau kembali ke Indonesia, setelah kurang lebih dua puluh tahun beliau berada di Indonesia, maka beliau kembali lagi ke Makkah, ketika itu beliau masih sempat melihat kembali gurunya Syeikh Hasan Masyaath, pada masa ini beliau menghabiskan waktu untuk belajar dan menghadiri majlis ilmu Syeikh Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, padahal beliau memiliki guru yang tidak di jumpai oleh Syeikh Muhammad Bin Alawi, guru-guru beliau adalah sebahagian guru-guru Syeikh Yasin Al-Fadani , beliau memiliki sanad yang tinggi , tetapi disebabkan cintanya beliau kepada ilmu maka beliau menghadiri majlis Syeikh Muhammad, dalam kondisi kaki yang sudah tidak boleh berjalan lagi, sehingga di bawa dengan kursi dorong, beliau dapat menghadiri majis ilmu, lihat kesungguhan beliau, walaupun dalam keadaan sakit tetap menuntut ilmu, menuntut ilmu bukan disebabkan selembar kertas Syahadah.

masih banyak lagi kisah-kisah para ulama yang sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, tetapi penulis mencukupkan ini saja, mudah-mudahan dapat berguna untuk kita, agar menambah kesungguhan dalam belajar agama.

Rabu, 01 April 2009

Ayatul Mufashshalat fi Ahaditsil Musalsalat

Alhamdulilah, dengan karunia Allah SWT Ust Husni telah mencetak sebuah kitab dengan judul " Al-Ayatul Mufashshalat fi Ahaditsi Musalsalaat " kitab ini terdiri dari beberapa hadits musalsal yang penulis riwayatkan dari guru-guru beliau, baik di Mesir, Makkah dan Madinah, Hadits musalsal adalah hadits yang diriwayatkanoleh seseorang dari gurunya dengan gaya, cara, kelakuan, sifat, keadaan, yang sama, dan gurunya meriwayatkannya juga seprti itu sehingga sampai kepada Rasulullah SAW, contohnya : Hadits Musalsal Mahabbah ( kasih sayang ), ketika Nabi meriwayatkan hadits Mahabbah, beliau mengatakan kepada Mu`az Bin Jabal. Inni Uhibbuka ( Saya menyayangimu ), demikian juga Mu`az menyebutkan kata-kata tersebut ketika meriwayatkanya kepada Tabi`in, demikian juga Tabi`in, sampai kepada kita sekarang ini, misanya lagi , hadits musalsal Yaumul A`id ( hari raya ) hadits ini di riwayatkan oleh setiap perawi pada hari raya saja sehingga jadilah dianya Musalsal yang bersangkut dengan masa.

Buku ini telah dihadiahkan kepada Prof.DR. Umar Hasyim, Prof.DR. Muhammad Mahmud Hasyim, Prof .DR. Sa`ad Jawisy, Prof.DR. Rif`at Fauzi , Prof. DR.Abdul Aziz Hanafi, Syeikh Muhammad Ibrahim Al-Kattani, Syeikh Mahmud Said Mamduh, Syeikh Jamal Abu Hannud Al-Falisthini, Syeikh Yusri Rusydi .

Bagi Saudara yang mengiginkannya, silahkan lihat di Rumah negeri Pulau Peneng, Melaka, Syubro, Tonto, Zaqaziq, dan boleh berhubungan terus dengan penulis untuk membacanya secara langsung.

Fadhilah membaca Surah Al-Kahfi

Soal : Adakah kelebihan membaca surah Al-Kahfi pada hari jumat ? :

Jawab : Al-Qur`an adalah kitab suci umat islam yang memiliki kelebihan dari seluruh kitab-kitab yang lain sebelumnya, membaca Al-Qur`an diniliai suatu ibadah yang besar walaupun orang tersebut tidak memahaminya, diantara surah-surah yang memiliki kelebihan dan keistimewaan dalam membacanya adalah surah Al-Kahfi, demikian juga surah Al-Kahfi memiliki kelebihan dan keistimewaan jika dibaca pada hari Jum`at.