Minggu, 04 April 2010
Selamat jalan Syeikh Abdul Qadir Saqaaf
Selamat jalan Syeikh Abdul Qadir Saqaaf
Jumat, 26 Maret 2010
Daurah Syama`il Muhammadiyah

Pengenalan dengan kitab Syama`il Muhammadiyah
1 - Pengarang
Pengarang kitab ini adalah al-Imam al-Faqih al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa Bin Surah at-Tirmidzi.
Beliau dilahirkan pada tahun 209 hijriyah dikota Tirmidz, dari kecilnya beliau sangat suka sekali belajar ilmu agama, sebab itulah perhatiannya benar-benar ditumpukan kepada ilmu terlebih-lebih dengan ilmu hadits, ha,pir seluruh ulama yang berada di kota Tirmidz beliau datangi, setelah mengambil seluruh riwayat hadits dari ulama-ulama dikotanya mulailah Imam Tirmidzi mencari ilmu dari ulama-ulama yang berada diluar kota Tirmidz, beliau berjalan dari timur sampai kebarat demi untuk mendengar hadits-hadits Rasulullah, kota-kota yang berada di negeri Kharasan telah beliau jalani, negeri Iraq telah beliau jelajahi, negeri Hijaz telah beliau ziarahi sehingga beliau telah berhasil mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah saw dari mulut-mulut Ulama yang ahli didalam bidang ilmu hadits.
Guru-guru beliau
diantara guru-guru beliau adalah :
1 - Imam Qutaibah bin Sa`id.
2 - Imam Ishaq bin Rahawih.
3 - Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.
4 - Imam Muslim .
5 - Imam Abu Daud as-Sijistani.
6 - Imam Mahmud bin Ghailan.
7 - Imam Abu Bakar bin Abi Syaibah.
Murid-murid beliau
diantara murid-murid beliau adalah:
1 - Imam Abu Bakar Ahmad bin Ismail as-Samaraqandi.
2 - ImamAbu Hamid Ahmad bin Abdullah al-Marwazi.
3 - Imam Ahmad bin Ali bin Ali al-Muqri`.
4 - Imam Ahmad bin Yusuf an-Nasafi.
5 - Imam Hamaad bin Syakir al-Waraaq.
Buah karya Imam Tirmidzi
1 - Kitab al-Jami` as-Sunan at-Tirmidzi.
2 - Kitab al-`Ilal.
3 - Kitab at-Tarikh.
4 - Kitab az-Zuhud.
5 - Kitab al-Asma` wa al-Kuna.
6 - Kitab Syama`il Muhammadiyah.
Beliau meninggal dunia pada malam senin tanggal 13 Rajab tahun 279 hijriyah di kota Tirmidz.
2 - Kitab Syama`il Muhammadiyyah
Kitab Syama`il Muhammadiyyah menceritakan tentang kepribadian Rasulullah dari fostur tubuhnya, akhlaknya, pakaiannya, kehidupannya, makanan beliau, kitab ini sangat penting sekali dipelajari oleh seluruh umat islam agar mereka lebih mengenali lebih dekat kepribadian Rasulullah saw, kitab ini memiliki lima puluh bab, dimulai dari Bab kejadian Rasulullah dan diakhiri dengan Bab melihat Rasulullah didalam mimpi.
Ulama-ulama yang pernah mensyarahkan Syama`il
diantaranya :
1 - Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
2 - Imam Mula `Ali Qari
3 - Imam al-Munawi.
4 - Imam Ibrahim al-Bajuri
Senin, 15 Maret 2010
Peranan Pesantren Musthafawiyah dalam mengembangkan mazhab Syafi`i

Sabtu, 13 Maret 2010
Syeikh Sayyid Tantawi

Syeikh Sayyid Tantawi dilahirkan didesa Salim Syarqiyah, propinsi Suhaj bahagian selatan Mesir pada tarikh 28 oktober 1928 Masehi, belajar ilmu agama dan menghapal al-Qur`an di Iskandariyah, meraih gelar doktor dari Fakultas Usuluddin jurusan Hadits dan Tafsir pada tahun 1966 Masehi, pernah menjadi dosen ( pensyarah ) Fakultas Usuluddin , kemudian diangkat menjadi Dekan Fakultas Usuluddin pada tahun 1976 masehi, kemudian terpilih kembali menjadi dekan Fakultas Darasat Islamiyah wa al-Arabiyah pada tahun 1985, beliau juga pernah mengajar di Libya selama empat tahun, pernah juga diangkat menjadi Dekan Fakultas Darasat Ulya diMadinah Munawwarah, pada tahun 28 oltober 1986 beliau diangkat menjadi Mufti Republik Arab Mesir, kemudian pada tahun 1996 beliau diangkat menjadi Syeikh al-Azhar, jabatan tersebut tetap beliau sandang sampai akhir hayatnya.
Akhlak Syeikh Sayyid Tantawi
Beliau seorang insan yang sangat sederhana, memiliki sifat rendah diri, tidak cepat marah, sangat menghormati orang lain, berani dalam mengambil resiko dalam berfatwa, mudah tersenyum dn menyapa, menghormati lawan-lawannya, menghormati pendapat orang lain.
al-Faqir pernah berbincang-bincang dengan beliau diruangan khusus Masjid Sayyidah Zainab diantara permasalahan yang di tanya adalah hukum shalat di masjid yang memiliki kuburan didalamnya.
Beliau menjawab : Hal tersebut boleh saja sebab yang dilarang adalah sujud dan menyembah kuburan, diantara dalil yang paling kuat tentang bolehnya shalat di masjid itu ialah bolehnya shalat di Masjid Nabawi sebab didalamya terdapat kuburan Nabi Saw, Abu Bakar dan Umar, kemudian beliau menyambung pembicaraannya, saya pernah memiliki seorang sahabat yang berkembangasan Saudi ketika saya menjadi Dekan Fakultas di Madinah, sahabat saya itu berkata dengan bangganya : " Saya tidak pernah shalat di Masjid Nabawi sekalipun karena karena terdapat di Masjid itu berhala yang disembah ( maksudnya kuburan Nabi ).
Saya ( al-Fakir al-Langkati ) melihat raut wajah Syeikh Sayyid Tantawi berubah seolah-oleh merasa sedih terhadap temannya yang tidak pernah shalat di Masjid Nabawi Madinah, betapa merugikan sekali orang tersebut.
Kemudian Syeikh melanjutkan pembahasan yang hangat, beliau berkata : Banyak sekali fatwa-fatwa yang keluar dari mulut saya diobah oleh media masa, semoga Allah memberi hidayak kepada mereka, saya tidak pernah mengatakan sebagaimana yang mereka sebarkan, bahkan itu senua dusta yang dibuat-buat.
Kedudukan Syeikh al-Azhar
Disebabkan al-Azhar adalah sebuah lembaga yang telah berdiri berabad-abad maka al-Azhar mendapat perhatian khusus dari pemerintah yang berkuasa, pada masa kerajaan Mamalik Syeikh azhar merupakan kedudukan besar dalam kerajaan dan dipilih oleh pembesar ulama-ulama al-Azhar Syarif, keadaan ini tidak begitu jauh berbedah pada masa pemerintahan Utsmaniyah, demikian juga ketika masa kerajaan Mesir telah dari keturunan Ali Basya memerintah, tetapi ketika seiring berakhirnya kerajaan Mesir dan turunnya Raja Faruq dari tahta kerajaan, beralihlah mesir menjadi Republik maka kedudukkan Syeikh al-Azhar tidak seperti dulu lagi, Presiden Jamal Abdunnasir telah merubah segalanya, pada masa presiden Anwar Sadat beliau mengangkat kedudukan Syeikh al-Azhar, sehingga kedudukannya seperti Perdana Menteri, dan janatan Syeikul Azhar tidak boleh diturunkan kecuali apabila telah meninggal dunia.
Pekerjaan sehari-hari Syeikhul Azhar
Adapun tugas sehari-hari Syeikhul Azhar adalah :
1 - Menerima tamu-tamu negara dari berbagai bangsa, baik bertujuan untuk mengetahui secara dekat al-Azhar ataupun meminta kemudahan agar pelajar-pelajar dari negara mereka boleh menduduki bangku pendidikan di al-Azhar.
2 - Memimpin Majma` Bu`uts Islami ( Badan penelitian Islam ), lembaga ini bertugas sebagai pengeluar fatwa dari berbagai macam kejadian yang berlaku diseluruh dunia islam, dan memberikan suran izin cetak buku-buku agama, lembaga ini terdiri dari ulama-ulama yang memiliki keahlian yang tinggi, mereka dipilih dari berbagai macam negara islam.
3 - Memimpin Universitas al-Azhar baik tingkat Lisence, Master, Doktor.
4 - Memimpin Sekolah al-Azhar yang terdiri dari Taman kanak-kanak ( Tadika ), Sekolah Dasar ( sekolah rendah ), sekolah menengah dan sekolah tinggi.
5 - Memimpin sega penerbitan al-Azhar seperti :
a - Majalah al-Azhar terbit setiap bulannya.
b - Saotul al-Azhar terbit setiap mingguan.
c - Buku - Buku al-Azhar dll.
6 - Kunjungan keberbagai negara seperti Saudi Arabiyah, Yordania, Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Uni Emirat Arab, dll.
negara yang terakhir beliau kunjungi adalah Saudi Arabiyah dalam tugas untuk pemilihan dan penyerahan piagam Raja Faisal.
Wafat dan kuburannya
Beliau meninggal dunia pada pagi hari tanggal 10 Maret 2010 masehi bertepatan dengan 24 Rabi`ul awal 1431 hijriyah akibat serangan jantung , kemudian di kuburkan di Baqi` dimana dikuburkannya ribuan sahabat dan tabi`in, semoga Allah memasukkannya kesurga dan menerima segala amalnya.
Minggu, 07 Maret 2010
Maulid Syeikh Muhammad Abdul Wahab al-Husofy
Peranan Salahuddin dalam mengembangkan Mazhab Syafi`i
Rabu, 03 Maret 2010
Mengkhatam kitab Shahih Bukhari
Selasa, 02 Maret 2010
Maulid Nabi di Sahah al-Husofiyah
Mengkhatam kitab Tahdzib Adabul Mufrad
Kamis, 18 Februari 2010
Kota Cairo
Setelah Panglima besar Jauhar ash-Shaqli utusan Khalifahan Bani Fathimiyah al-Mu`iz lidinillah al-Fathimi berhasil menaklukkan Mesir pada tahun 358 Hijriyah ( 968 M ), beliau berusah untuk mendirikan sebuah kota yang megah, yang mampu menahan dari serangan musuh dari luar Mesir, kota itu juga akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan Khalifah Bani Fathimiyah, pusat pemerintahan Khalifah yang selama ini di Moroco di pindahkan ke negeri Mesir, karena melihat negeri Mesir adalah tempat yang sangat strategis sekali, kota ini mereka namakan kota Qahirah ( cairo ).
Pertama sekali yang dibangun oleh Panglima Jauhar adalah tembok yang kokoh mengelilingi kota Qahirah, sebagai pertahanan dari serangan musuh, sebab Qahirah akan dijadikan tempat tinggalnya Khalifah, keluarganya, menteri-menteri dan tentera-tenteranya, karena kota Qahirah dikelilingi dengan tembok maka kota ini mesti memiliki pintu masuk dan keluar, tembok Qahirah memiliki delapan pintu, pintu an-Nashr, pintu Zuwilah, pintu al-Faraj, pintu al- Futuh, pintu Burqiyah, pintu Qarathin, pintu Sa`adah, pintu Qantharah, kemudian tembok Qahirah diperbaiki oleh Badar al-Jamali seorang menteri pada pemerintahan Khalifah al-Muntashir pada tahun 480 Hijriyah, pada sekarang ini yang tinggal dari pintu-pintu Qahirah ialah Pintu an-Nashar, pintu al-Futuh, pintu Zuwilah.
Panglima Jauhar juga membangun sebuah istana yang besar dan megah, didirikan disebelah bahagian timur tembok Qahirah, untuk tempat tinggal Khalifah al-Mu`iz liddinillah, istana ini berdiri dari Mesjid al-Aqmar sampai kepada Mesjid Saidina al-Husein, istana ini disebut Qashar Syarqi al-Kabir ( istana besar bahagian timur ), istana ini memiliki sembilan pintu yang memiliki nama-nama khusus, tetapi malangnya istana Qashar Syarqi al-Kabir hanya tinggal sejarah yang terpendam didalam buku-buku sejarah Qahirah, sebab wujud dan bekas puing-puing tidak dapat dilahat lagi.
Nama al-Qahirah ( Cairo ) inilah yang melekat sampai sekarang kepada ibu kota Mesir, al-Qahirah sekarang terdiri dari beberapa kota lama dan baru
Kota Fusthath dan Masjid `Amr Bin `Ash
Baru-baru ini saya saya diajak untuk membawa orangtua teman berjalan-jalan ke Kairo, diantara tempat yang di tuju adalah kota Fusthath yang terdapat didalamnya masjid `Amr bin `Ash` .
Kota Fusthath adalah kota islam yang pertama sekali di negeri Mesir, kota ini telah didirikan oleh Amru Bin `Ash pada tahun 20 Hijriyah, ( 641 M ), dan Amru Bin `Ash juga berhasil mengeluarkan bangsa Romawi dari kota iskandariyah ( Alexander ) setelah beberapa abad mereka menguasainya.
Pada mulanya `Amru Bin `Ash ingin menjadikan Iskandariyah menjadi ibukota negeri islam di Afrika, tetapi menurut Khalifah Umar Bin khathab tempatnya tidak strategis, namum setelah itu `Amru Bin `Ash memilih satu daerah yang berhampiran dengan
sungai Nil, tempat tersebut dibahagian utara benteng Babiliyon yang telah direbut dari tangan tentera Romawi.
2 – Mesjid `Amru Bin `Ash
Setelah Mesir dapat ditaklukkan oleh `Amru Bin `Ash , maka pekerjaan yang pertama sekali beliau laksanakan adalah membangun Mesjid, sebagaimana perbuatan Rasulullah SAW dalam membangun Mesjid Madinah, ini disebabkan mesjid pada masa dahulu sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan ketenteraan, begitu pentingnya mesjid dikalangan umat islam, mesjid ini berada dibahagian kota Fusthath.
Pendiri mesjid ini adalah panglima besar `Amru Bin `Ash, beliau seorang yang handal dalam berpolitik, berperang, dan berpidato, Umar BinKhathab telah melantik beliau sebagai pemimpin pasukkan untuk penaklukan negeri Mesir dari kekuasaan Romawi, setelah beliau berhasil merebut Mesir, maka Umar Bin Khatab melantik `Amru Bin `Ash menjadi gubernur Mesir, pada masa inilah `Amru memulai membangun mesjid untuk umat islam.
Mesjid `Amru Bin `Ash didirikan pada tahun 21 Hijriah, banyak para sahabat dan tabi`in yang ikut serta dalam membangun mesjid ini, sehingga sampai delapan puluh sahabat menentukan arah Qiblat, diantaranya : Zubair Bin `Awam, al-Miqdad, `Ubadah Bin Shamat, Abu Darda`, dan yang lainnya.
Mesjid ini berbentuk memanjang, panjang bahagiannya 28,9 meter, dan lebar sisinya 17,4 meter, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya terbuat dari pelepah pohon kurma, dan ting-tiangnya dari batang pohon kurma, memiliki enam pintu, mesjid ini telah berulang kali di renofasi dan diperluas, diantaranya ialah : pada tahun 53 Hijriyah ( 672 M ) Pangeran Maslamah Bin Mukhllad al-Anshori telah memperluas mesjid, kemudian diperluas oleh Pangeran Abdul Aziz Bin Marwan ( Gubernur Mesir ketika itu ) tahun 79 Hijriyah ( 698 M ) pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, kemudian mesjid ini di perbesar oleh Abdul Malik Bin Thahir pada masa pemerintahan Khalifah Ma`mun al-`Abbasi, sehingga panjang mesjid `Amru 120 meter, dan lebarnya 100 meter, sampai sekarang luasnya mesjid `Amru Bin `Ash tidak berubah dari perluasan Abdul Malik Bin Thahir, demikian juga mesjid ini pernah diperbaiki oleh Sultan Shalahuddin al-Ayubi pada tahun 568 Hijriah ( 1172 M ), Mesjid `Amru begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah, dari masa pemerintahan Khulafau Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti `Abbasiyah, Dinasti Ayubiyyah, Dinasti Mamalik, sampai Dinasti Utsmaniyah.
Mesjid `Amru Bin `Ash bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan islam pertama sekali di benua Afrika, para sahabat mengajarkan al-Qur`an dan Hadits kepada para Tabi`in, tabi`in mengajar ilmu agama kepada Tabi` Tabi`in, begitulah seterusnya, sampai masa timbulnya al-Azhar Syarif sehingga mengurangkan keterlibatan mesjid `Amru dalam menebarkan ilmu islam, Imam Syafi`i pernah mengajar di mesjid ini, dari mulai pagi sampai malamnya, hal ini membuktikan masjid Amr bin `Ash pernah mengeluarkan sarjana-sarjana islam yang hebat dan handal.
Kamis, 11 Februari 2010
Syeikh Zakariya Bila

Rabu, 10 Februari 2010
Peran Pesantren Musthafawiyah dalam menebarkan ilmu Tasawuf
Ilmu tasawuf juga sangat diperhatikan didaerah Mandailing Natal yang memiliki banyak ulama-ulama ternama, mereka berhasil mengembangkan tasawuf dimasyarakat sehingga terbentuklah akhlak yang mulia, budi pekerti yang baik ditengah masyarakat, ketika kita menoleh kesatu lembaga pendidikkan yang terkenal dan tersohor di Mandailing, sebuah tempat untuk mencetak insan-insan yang bertanggung jawab dan memiliki akhlak yang baik melalui penanaman nilai-nilai tasawuf yang telah dipupuk oleh sang pendiri pesantren itu, pesantren tersebut tidak lain adalah Musthafawiyah yang telah didirikan oleh Syeikh Musthafa Husein setelah pulangnya beliau dari Makkah Mukarramah, pesantren ini sudah begitu tua tetapi masih tetap kokoh berdiri menghadapi gelombang hidup, dari tahun 1912 Masehi pesantren ini telah mengembangkan kehidupan tasawuf yang telah dikutip dan dipelajari oleh sang pendiri di Makkah, ketika di Makkah beliau telah banyak mempelajari ilmu - ilmu agama diantaranya ilmu tasawuf, hasil ilmu beliau inilah yang ditanam di pesantren Musthafawiyah.
Begitu besar peranan pesantren Musthafawiya dalam menebarkan ilmu Tasawuf dikalangan murid-muridnya, sehingga cara kehidupan para sufi menjadi panutan di pondok pesantren ini, seperti para pelajar lelaki disebut dengan Foqir yang berasal dari kalimat Faqir yang berarti seorang yang Faqir, laqob ini digelar bagi orang - orang sufi, tidak hanya sebatas sebutan saja, bahkan didalam mata pelajaran terdapat pelajaran tasawuf bagi kelas lima sampai kelas tujuh, pada kelas lima telah tetapkan kitab Bidayah wal Hidayah sebagai mata pelajaran tasawuf, sementara pada tahun keenam dan ketujuh kitab Minhajul Abidin, kedua kitab ini adalah hasil karya Imam Ghazali seorang pemuka sufi yang ternama.
Tidak hanya itu, bahkan dipesantren ini juga diajarkan kitab Dala`ilul Khairat bagi tahun tujuhnya, Dala`ilul Khairat merupakan salah satu amalan yang banyak diamalkan oleh ulam sufi, kitab ini adalah himpunan salawat yang dilantunkan oleh kebanyakkan pengikut tariqah Syadzuliyah, tetapi juga diamalkan oleh para pelajar-pelajar Musthafawiyah, adapun tariqat yang dikembangkan oleh pendiri ialah tariqah Khalwatiyah.
Pesantren Musthafawiyah telah berhasil mengeluarkan ribuan santri yang berjiwa sufi menebarkan ajaran-ajaran tasawuf digelanggang masyarakat yang sangat memerlukan ilmu tasawuf, hal ini memperkuat posisi tasawuf di hadapan dunia, karena sebahagian orang menolak adanya ilmu tasawuf serta menganggap tasawuf adalah bid`ah, perjalanan pesantren Musthafawiyah yang penuh dengan berbagai macam halangan dan hambatan tetapi membuat Mustafawiyah tetap tegar dengan konsep lamanya dengan cara mempelajari ilmu tasawuf,inilah membuat ciri-ciri keistmewaan Musthafawiyah dengan pondok pesantren lainnya, amalan tasawuf begitu mengental didalam darah para tenaga pengajar dan para pelajar, tidak banyak didapati di Indonesia pesantren yang mengembangkan ilmu tasawuf, tetapi Muthafawiyah tampil beda dengan ajaran taswuf telah ditetapkan oleh pendiri pesantren.




